Apr 19
  • Tungku integrasi untuk briket batubara pada industri kecil menengah.
  • Pembakaran siklon/cyclo burner untuk industri.
  • Tungku hemat energi dengan briket biobatubara untuk industri rumah tangga.
  • Pembakaran siklon untuk kalsinasi kapur sistem berkala/menerus.
Apr 19
  • Pembuatan kokas dari campuran batubara dan green coke.
  • Pembuatan kokas dari batubara non coking.
  • Pemanfaatan Gas Dingin Hasil Gasifikasi Batubara untuk PLTD.
  • Gasifikasi Batubara untuk Pengeringan Hasil Pertanian/Perkebunan.
  • Pencairan Batubara.
  • Pembuatan Karbon Aktif dari Batubara.
Apr 19
  • Peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses Upgraded Brown Coal (UBC).
  • Coal Water Fuel sebagai bahan bakar Ketel Uap.
  • Pencucian/penghilangan pengotor batubara.
Apr 19
  • Sistem Penambangan Batubara Bawah Tanah Menggunakan Metode Shortwall.
  • Sistem Penambangan Emas dengan Lebar Urat < 2 cm Menggunakan Metode Underhand Stull Stoping.
  • Desain Lereng Tambang Batubara Terbuka pada Daerah Endapan Rawa.
  • Teknologi Perkuatan Massa Batuan dengan Sistem Cable Bolt.
  • Sistem Pemantauan Produksi Batubara dan Pemeliharaan Alat Utama Penambangan.
  • Sistem Pemantauan Air Tanah Berbasis Telemetri.
  • Sistem Pemantauan Lingkungan.
  • Sistem Pergerakan Lereng dan Lubang Bukaan Tambang Bawah Tanah Berbasis Telemetri.
Apr 16
  • Aktivasi dan Granulasi Zeolit untuk Pertanian untuk Efisiensi Penggunaan Pupuk.
  • Aktivasi Ca-bentonit untuk Penjernih Minyak Sawit CPO.
  • Pencucian dan Klasifikasi Ukuran Pasir Kuarsa untuk Bahan Baku Gelas, Keramik dan Pasir Cetak.
  • Pengolahan Felspar Kadar rendah (35 %) Melalui Proses Flotasi Hingga Mencapai 80 - 85 % (kualitas impor).
  • Pengolahan Kuarsa untuk Gravel Pack Sand (standar API) untuk Industri Pemboran Minyak.
  • Ekstraksi Belerang Berbiaya Produksi Lebih Murah dengan Teknologi Tepat Guna.
  • Pembuatan Precipitated Carbonate (PCC) dari Batu Kapur.
  • Pengolahan Kapur Menjadi Kapur Tohor atau Kapur Padam serta Kapur Ringan.
  • Pembuatan Tawas/PAC dari Kaolin Kadar Rendah dan Pemanfaatan Kandungan Aluminiumnya sebagai Penjernih Air.
  • Pembuatan Semen Pozolan Kapur.
  • Pembuatan Pupuk Majemuk dari Dolomit dan Fosfat Kadar Rendah.
  • Pembuatan Pupuk Kiserit dari Dolomit.
  • Peningkatan Kualitas Fosfat Kadar Rendah.
  • Peningkatan Kadar Bauksit dari Crude Bauxite dan Ampas.
  • Pembuatan Ca-hidrofosfat.
  • Pemanfaatan Residu Bauksit.
  • Penyiapan Bahan Baku Keramik Siap Pakai.
  • Pemanfaatan Abu Terbang untuk Bata Ringan.
  • Pengolahan zirkon menjadi zirkonia.
  • Pemanfaatan Monmorilonit untuk Katalis Biodiesel Padat.
Apr 16
  • Pengolahan Limbah Mineral Berupa Scrap Besi, Kawat Tembaga, Limbah Tekstil serta Percetakan Menjadi Produk yang Dapat Dijual.
  • Pemanfaatan Abu Terbang PLTU untuk Castable Refractory.
  • Pemanfaatan Abu Batubara sebagai Pembenah Tanah di Daerah Penimbunan.
  • Ekstraksi Logam Emas dari Ampas.
  • Desulfurisasi Limbah Batubara dengan Flotasi Kolom.
  • Pemanfaatan Residu Bauksit.
  • Ekstraksi Logam berharga dari Slime Proses Peleburan Tembaga.
Apr 16
  • Pengolahan Emas Ramah Lingkungan Cara Gravitasi (mineral berat yang terkandung dapat diekstraksi melalui proses flotasi).
  • Flotasi Bijih Sulfida (Pb, Cu, Zn) dari Ampas Sianidasi Emas.
  • Proses Pemurnian Timah cara Electrorefining (kadar mencapai 99.99%).
  • Pemanfaatan Antrasit Sebagai Reduktor Peleburan Timah.
  • Pemanfaatan Timah untuk Bahan Baku Tin Plate, Solder, Pewter, dan Organotin.
  • Pencucian Bijih Mangan.
  • Flotasi Bijih Sulfida.
  • Pembuatan Pelet Bijih Besi.
  • Peningkatan Kadar Bijih Galena dan Peleburannya.
  • Peningkatan Kadar Pasir Besi.
  • Pembuatan Katalis BBM dari Logam Timah.
  • Ekstraksi Silikon dari Pasir Kuarsa untuk Bahan Baku Wafer Sel Surya.
  • Ekstraksi Logam Jarang dan Tanah Jarang dari Minerla Ikutan.
Mar 27

Bijih besi laterit banyak terdapat di beberapa tempat di Indonesia seperti pulau Sebuku, Gunung kukusan, Geronggang (Kalimantan Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Halmahera, diperkirakan jumlah endapan bijih besi laterit ini mencapai 950.000.000 ton dengan kandungan Fe 39,8 – 55,2%. Karakteristik bijih besi laterit memiliki kandungan besi yang rendah, kandungan logam-logam pengotor seperti nikel, krom, kobal, mangan dan kandungan air yang tinggi. Dengan karakteristik demikian bijih besi laterit hampir belum dapat termanfaatkan dalam industri besi-baja. Pada umumnya industri besi baja membutuhkan kadar besi 60-69%, sedangkan PT. Krakatau Steel membutuhkan bijih dengan kandungan Fe minimum 65%. Pada saat ini belum ada tekologi yang efektif dan ekonomis melakukan peningkatan kadar bijih besi jenis lateritik, yang dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri besi baja. Continue reading »

Mar 27

SARI

Penelitian pengembangan karbon aktif ini merupakan penelitian lanjutan yang menitikberatkan pada pengamatan hasil percobaan aktifasi pada reaktor dengan kapasitas 60 kg/jam yang dilakukan di Palimanan, Cirebon. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat rendah. Proses pembuatan karbon aktif diawali dengan proses karbonisasi. Pada proses tersebut terjadi penghilangan komponen-komponen yang mudah menguap dan bergabungnya sebagian senyawa-senyawa karbon membentuk suatu kristalit. Hasil dari karbonisasi yaitu karbon yang telah berpori tetapi masih tertutup oleh tar dan adanya senyawa karbon yang masih berada diluar kristalit. Proses aktivasi dilakukan dengan metode fisika dengan mengalirkan uap air bertekanan tinggi kedalam sebuah reaktor pada suhu > 800oC. Tujuan dari penelitian ini dalah optimasi kulitas produksi dengan sistem aktifasi thermal atau fisik dalam mempersiapkan pengembangan karbon aktif dari batubara peringkat rendah pada skala pilot plant. Kabon aktif yang dihasilkan dari pengembangan teknologi aktivasi ini cendrung telah mendekati mutu karbon aktif komersial dengan bilangan iodine 296 mg/g.

Mar 27

SARI

Kelongsoran lereng  suatu lubang bukaan tambang dapat mengganggu kelancaran kegiatan penambangan, oleh karena itu diperlukan kajian untuk mengetahui aspek geoteknik lereng tersebut dan juga kimia mineral batuan, supaya dapat diketahui cara penanggulan yang baik dan cepat. Secara keseluruhan kondisi lereng dengan factor keamanan = 2,0 cukup stabil walaupun sering terjadian jatuhan material batuan, terutam pada muka lereng yang tersusun oleh batu lempung hal ini disebabkan oleh kandungan kimia dan mineral batu lempung yang kurang resisten terhadap pelapukan. Continue reading »