Apr 08

Salah satu makna dari UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah tentang kewajiban perusahaan di dalam mengoptimalkan kegiatan usaha pertambangan. Untuk mengoptimalkan pengusahaan dan penerimaan negara dari pertambangan mineral, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah (PNT) Mineral Melalui Pengolahan Dan Pemurnian Mineral. Continue reading »

Mar 27

Bijih besi laterit banyak terdapat di beberapa tempat di Indonesia seperti pulau Sebuku, Gunung kukusan, Geronggang (Kalimantan Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Halmahera, diperkirakan jumlah endapan bijih besi laterit ini mencapai 950.000.000 ton dengan kandungan Fe 39,8 – 55,2%. Karakteristik bijih besi laterit memiliki kandungan besi yang rendah, kandungan logam-logam pengotor seperti nikel, krom, kobal, mangan dan kandungan air yang tinggi. Dengan karakteristik demikian bijih besi laterit hampir belum dapat termanfaatkan dalam industri besi-baja. Pada umumnya industri besi baja membutuhkan kadar besi 60-69%, sedangkan PT. Krakatau Steel membutuhkan bijih dengan kandungan Fe minimum 65%. Pada saat ini belum ada tekologi yang efektif dan ekonomis melakukan peningkatan kadar bijih besi jenis lateritik, yang dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri besi baja. Continue reading »

Mar 25

Ekstraksi emas dengan teknik sianidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini proses sianidasi menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan sangat serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidakmampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perusahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas ,menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan yang sangat serius. Continue reading »

Mar 25

Bijih nikel laterit kadar rendah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan feronikel dengan melakukan peningkatan kadar nikel sesuai cut of grade yang ditentukan UBPN Operasi Pomala, PT. Antam Tbk yaitu 2.3% Ni. Percobaan dalam skala laboratorium telah menghasilkan peningkatan kadar nikel lebih besar dari 2.3% Ni yaitu 2.43% Ni dengan perolehan optimum sebesar 83.4% untuk conto A dan 2.39% Ni dengan perolehan sebesar 84.08% untuk conto B, melalui metode flotasi dengan mengapungkan mineral silikat, dengan menggunakan senyawa amina komplek  untuk kolektor dan starch (kanji) untuk depressant. Sedangkan metoda magnetisasi dapat dimanfaatkan dan meningkatkan kadar besi tetapi tidak dapat meningkatkan kadar nikel dalam pemanfaatan endapan bijih nikel laterit lapisan atas (iron cap) dengan peningkatan kadar besi dari 41.88% Fe menjadi 66.43% Fe dan nikel dari kadar 0.40% Ni menjadi 0.50% Ni.

Mar 19

Ekstraksi emas dengan sanidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidak mampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perisahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan sehingga dapat menimbulkan masalah yang sangat serius. Continue reading »

Mar 17

Aglomerasi emas batubara (Coal Gold Agglomeration-CGA) adalah inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Dimulai dengan proses aglomerasi minyak batubara (Coal Oil Agglomeratin-COA) yang menunjukan bahwa pengaruh kandungan karbon batubara penting dalam  membentuk aglomerat tetapi tidak dominan. Pengaruh yang lebih dominan adalah kandungan abu batubara yang harus serendah mungkin. Emas dari bijih alluvial mudah ditangkap secara selektif dengan teknologon CGA karena sudah teribelasi sempurna. Emas dari bijih oksidis atau sulfidis relative agak sulit dipisahkan karena masih interlock dengan mineral lain, kecuali ditambahkan reagen permukaan mineral pembawa emas. Laju penangkapan emas lebih cepat jika menggunakan  batubara abu rendah.

Secara umum, teknologi CGA mampu menangkap emas cukup banyak  (recovery 50-85%) dengan kadar meningkat sekitar 7-16 kali lipat dari bahan bakunya. Dibandingkan dengan proses amalgamasi, teknologi CGA lebih efektif.

Mar 31

Desain alat dan proses kontinu pelindian skala semi pilot yang dirancang diharapkan dapat melakukan berbagai pengujian dengan berbagai aspek pengamatan dari parameter proses hidrometalurgi, terutama untuk masalah kinetika dan proses kontinu dengan sistem otomat. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kelayakan teknologi proses ekstraksi nikel melalui proses hidrometalurgi (leaching-solvent extraction) yang dijadikan garam kimia dan rancang bangun peralatannya dengan sistem kontrol. Metodologi meliputi: desain reaktor pelindian dan rangkaian sistem kontinu; desain sistem kontrol; kontrol variabel dan otomatisasi proses. Continue reading »