Apr 08

Salah satu makna dari UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah tentang kewajiban perusahaan di dalam mengoptimalkan kegiatan usaha pertambangan. Untuk mengoptimalkan pengusahaan dan penerimaan negara dari pertambangan mineral, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah (PNT) Mineral Melalui Pengolahan Dan Pemurnian Mineral. Continue reading »

Mar 03

Dalam setiap kegiatan produksi selain dihasilkan suatu produk yang mempunyai nilai tambah tinggi, juga dihasilkan limbah baik limbah padat, cair, maupun gas. Termasuk di dalamnya kegiatan industri pertambangan dan kimia yang menggunakan bahan baku dari bahan galian tambang. Beberapa jenis industri kimia yang menghasilkan limbah padat antara lain industri pembuatan antena yang menggunakan bahan baku aluminium menghasilkan limbah berupa sludge mengandung aluminium, industri elektronika yang menggunakan bahan baku lempengan logam tembaga menghasilkan limbah cair yang mengandung tembaga klorida, dan industri permesinan yang menangani material-material terbuat dari besi menghasilkan limbah padat berupa skrap besi. Jumlah limbah yang dihasilkan tersebut cukup besar sesuai dengan banyaknya pabrik yang melakukan aktifitas kegiatan produksi. Sebagai contoh pabrik antena yang ada di daerah Gedebage menghasilkan sludge sebanyak 10 ton per bulan. Pabrik elektronika didaerah Cicalengka menghasilkan limbah yang mengandung tembaga mencapai  40 ton / bulan. Sementara limbah skrap besi jumlahnya cukup besar dan tersebar diberbagai lokasi. Apabila limbah-limbah tersebut di atas tidak dikelola dan diolah dengan baik akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Dengan menggunakan metode pengolahan limbah yang tepat, selain terjadinya pencemaran lingkungan dapat dicegah, juga dapat diperoleh nilai tambah yang tinggi, karena limbah-limbah tersebut di dalamnya masih terkandung komponen-komponen berharga seperti Al, Cu, dan Fe yang masih memiliki nilai ekonomi.

Continue reading »

Mar 27

Bijih besi laterit banyak terdapat di beberapa tempat di Indonesia seperti pulau Sebuku, Gunung kukusan, Geronggang (Kalimantan Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Halmahera, diperkirakan jumlah endapan bijih besi laterit ini mencapai 950.000.000 ton dengan kandungan Fe 39,8 – 55,2%. Karakteristik bijih besi laterit memiliki kandungan besi yang rendah, kandungan logam-logam pengotor seperti nikel, krom, kobal, mangan dan kandungan air yang tinggi. Dengan karakteristik demikian bijih besi laterit hampir belum dapat termanfaatkan dalam industri besi-baja. Pada umumnya industri besi baja membutuhkan kadar besi 60-69%, sedangkan PT. Krakatau Steel membutuhkan bijih dengan kandungan Fe minimum 65%. Pada saat ini belum ada tekologi yang efektif dan ekonomis melakukan peningkatan kadar bijih besi jenis lateritik, yang dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri besi baja. Continue reading »

Mar 27

Salah satu factor utama yang perlu diperhatikan dalam proses pengolahan feldspar adalah memonitor variable proses yang diukur oleh sistem kontrol berbasis computer. Upaya ini dilakukan dengan cara memantau variable proses mulai dari proses aliran umpan, berat umpan yang diterima, tingkat kekentalan, tingkat keasaman dan suhu pengeringan. Continue reading »

Mar 25

Kegiatan Pembangunan Sentra Percontohan Pengolahan Mineral skala pilot plant yang berlokasi di daerah Citatah, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, merupakan salah satu program unggulan Kelompok Pengolahan dan Pemanfaatan Mineral. Pada kegiatan percontohan ini terdapat dua kegiatan utama, yaitu kegiatan pembangunan fisik berikut sarananya dan kegiatan litbang teknologi pengolahan mineral skala pilot yang dapat menghasilkan contoh –contoh produk mineral berupa konsentrat/produk antara atau bahan baku siap pakai yang dapat diuji cobakkan ke industri pengguna. Continue reading »

Mar 25

Ekstraksi emas dengan teknik sianidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini proses sianidasi menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan sangat serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidakmampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perusahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas ,menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan yang sangat serius. Continue reading »

Mar 25

Bijih nikel laterit kadar rendah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan feronikel dengan melakukan peningkatan kadar nikel sesuai cut of grade yang ditentukan UBPN Operasi Pomala, PT. Antam Tbk yaitu 2.3% Ni. Percobaan dalam skala laboratorium telah menghasilkan peningkatan kadar nikel lebih besar dari 2.3% Ni yaitu 2.43% Ni dengan perolehan optimum sebesar 83.4% untuk conto A dan 2.39% Ni dengan perolehan sebesar 84.08% untuk conto B, melalui metode flotasi dengan mengapungkan mineral silikat, dengan menggunakan senyawa amina komplek  untuk kolektor dan starch (kanji) untuk depressant. Sedangkan metoda magnetisasi dapat dimanfaatkan dan meningkatkan kadar besi tetapi tidak dapat meningkatkan kadar nikel dalam pemanfaatan endapan bijih nikel laterit lapisan atas (iron cap) dengan peningkatan kadar besi dari 41.88% Fe menjadi 66.43% Fe dan nikel dari kadar 0.40% Ni menjadi 0.50% Ni.

Mar 25

Sehubungan dengan akan dikembangkannya dua cadangan bauksit yang potensial di Indonesia yaitu daerah Tayan di Kalimantan Barat serta di Kijang, propinsi Riau oleh PT. Antam untuk memproduksi aluminia (bekerjasama dengan Showa-Denko (Jepang) untuk Tayan, dan Xinfa (Cina)  untuk Kijang) maka hal yang penting mendapat perhatian lembaga litbang mineral khususnya pengolahan mineral diantaranya adalah limbah proses pengolahannya yang disebut red mud. Continue reading »

Mar 25

Studi tentang aktivasi red mud, residu pembuatan alumina dari bauksit dengan proses bayer yang akan digunakan sebagai bahan katalis pencairan batubara. Kegitan dilakukan dengan melakukan pengolahan bauksit Tayan Kalimantan Barat dan bauksit dari pulau Kijang dengan proses bayer.

Continue reading »

Mar 25

Studi tentang aktivasi red mud, residu pembuatan alumina dari bauksit dengan proses bayer yang akan digunakan sebagai bahan katalis pencairan batubara. Kegiatan dilakukan dengan melakukan pengolahan bauksit Tayan Kalimantan Barat dan bauksit dari pulau Kijang dengan proses bayer.

Continue reading »