Feb 18

Beberapa tambang batubara terbuka mengalami kesulitan dalam pengembangannya karena keberadaannya semakin jauh dari permukaan bumi. Keadaannya menjadi tidak ekonomis karena waste/coal ratio semakin tinggi. Masalah lain yang dihadapi adalah kestabilan lereng dan beratnya masalah air tanah. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendukung optimalisasi penambangan batubara melalui kajian geoteknologi. Continue reading »

Feb 18

Limbah cair pengolahan bijih emas dan pencucian batubara umumnya mengandung berbagai jenis logam berat antara lain besi (Fe), tembaga (Mn), timbal (Pb) dan seng (Zn). Logam-logam tersebut dapat berasal dari kegiatan pengupasan tanah penutup dan proses pengolahannya. Continue reading »

Feb 17

Dengan dikuranginya subsidi BBM secara drastis maka banyak industri beralih dari penggunaan BBM ke batubara. Banyak diantaranya yang membeli boiler baru dengan bahan bakar batubara sementara boiler lama dengan bahan bakar minyak tidak digunakan karena tidak ekonomis lagi. Continue reading »

Feb 17

Pembuatan briket biobatubara yang selama ini dikerjakan masih belum efektif dan efisien bila ditinjau dari sisi bahan baku maupun prosesnya. Beberapa kendala dalam proses pembuatan diusahakan untuk diatasi dan komposisi bahan juga diperbaiki untuk menghasilkan briket biobatubara yang tidak bersifat toksik apabila digunakan pada industri kecil. Continue reading »

Feb 17

Produksi kapur dari batu gamping di Indonesia termasuk melimpah, namun pemanfaatannya sebagian besar untuk bahan bangunan, hanya sedikit untuk industri kimia, bahkan belum ada untuk keperluan pakan ternak.
Untuk itu tekMIRA melakukan litbang pembuatan kalsium hidrofosfat dan pembuatan soda ash. Continue reading »

Feb 17

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengubah cara pengolahan emas skala kecil yang biasanya menggunakan air raksa sebagai media penangkap emas dengan cara melebur langsung konsentrat emas dengan menggunakan batubara sebagai reduktornya.

Contoh konsentrat emas mengandung mangan yang cukup tinggi yakni Au=217,8 g/t, Ag=8219,7 g/t, Mn=18% dan Cu=0,023%.

Setelah proses peleburan menghasilkan produk Au=67,68% dan Ag=40,57% dengan recovery Au=85,40% dan Ag=75,80%.

Feb 17

Penelitian ini dimaksudkan untuk memanfaatkan limbah pengolahan bijih nikel yang mengandung laterit.

Bijih laterit dibuat pellet, kemudian dilakukan proses reduksi langsung dalam dapur tabung listrik dicampur dengan pellet hancur dari PT Krakatau Steel, kapur dan batubara sebagai reduktor.

Proses reduksi berlangsung pada suhu 900 - 1000°C. Logam besi yang terbentuk berukuran halus berukuran 1 – 8 mikron. Struktur logam besi terbaik diperoleh pada suhu reduksi 1000°C.

Feb 17

Penelitian ini merupakan rekayasa alat sensor yang dapat digunakan secara langsung di lapangan. Sensor ini terdiri dari platinum sebagai working electrode dan AgCl sebagai reference electrode. Continue reading »