Mar 27

Bijih besi laterit banyak terdapat di beberapa tempat di Indonesia seperti pulau Sebuku, Gunung kukusan, Geronggang (Kalimantan Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Halmahera, diperkirakan jumlah endapan bijih besi laterit ini mencapai 950.000.000 ton dengan kandungan Fe 39,8 – 55,2%. Karakteristik bijih besi laterit memiliki kandungan besi yang rendah, kandungan logam-logam pengotor seperti nikel, krom, kobal, mangan dan kandungan air yang tinggi. Dengan karakteristik demikian bijih besi laterit hampir belum dapat termanfaatkan dalam industri besi-baja. Pada umumnya industri besi baja membutuhkan kadar besi 60-69%, sedangkan PT. Krakatau Steel membutuhkan bijih dengan kandungan Fe minimum 65%. Pada saat ini belum ada tekologi yang efektif dan ekonomis melakukan peningkatan kadar bijih besi jenis lateritik, yang dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri besi baja. Continue reading »

Mar 27

Penelitian pengembangan karbon aktif ini merupakan penelitian lanjutan yang menitikberatkan pada pengamatan hasil percobaan aktifasi pada reaktor dengan kapasitas 60 kg/jam yang dilakukan di Palimanan, Cirebon. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat rendah.

Continue reading »

Mar 27

Kelongsoran lereng suatu lubang bukaan tambang dapat mengganggu kelancaran kegiatan penambangan, oleh karena itu diperlukan kajian untuk mengetahui aspek geoteknik lereng tersebut dan juga kimia mineral batuan, supaya dapat diketahui cara penanggulan yang baik dan cepat. Secara keseluruhan kondisi lereng dengan factor keamanan = 2,0 cukup stabil walaupun sering terjadian jatuhan material batuan, terutam pada muka lereng yang tersusun oleh batu lempung hal ini disebabkan oleh kandungan kimia dan mineral batu lempung yang kurang resisten terhadap pelapukan. Continue reading »

Mar 27

Salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam proses pengolahan feldspar adalah memonitor variable proses yang diukur oleh sistem kontrol berbasis computer. Upaya ini dilakukan dengan cara memantau variable proses mulai dari proses aliran umpan, berat umpan yang diterima, tingkat kekentalan, tingkat keasaman dan suhu pengeringan. Continue reading »

Mar 27

Dalam rangka pengembangan kemampuan pembuatan desain dan rancang bangun, telah dilakukan pembuatan desain gasifier batubara kapasitas 150 kg/jam dan rancang bangun sebagian reactor berupa rangkaian tabung reactor bagian luar (jaket). Continue reading »

Mar 27

Percobaan gasifikasi dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan menggunakan reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65 mesh). Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. Pada kondisi fluidisasi suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. Suhu reaktor sistem unggun fluidisasi adalah 900oC. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas) dilakukan pemurnian dengan alat cyclone, condenser dan scrubber. Sesudah syngas dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas chromatography (GC). Continue reading »

Mar 27

Intruksi Presiden No 2 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yang di cairkan sebagai bahan bakar lain telah mengamanatkan kepada Departemen terkait, termasuk Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk merealisasikan pembangunan pabrik pencairan batubara di tanah air, serta memanfaatkan produk – berupa BBM – dari hasil pencairan batubara tersebut. Continue reading »

Mar 27

Telah dilakukan studi tentang pembuatan geotit dari pirit dan ferosulfat dan aplikasinya sebagai bahan katalis pencarian batubara. Selain itu juga telah diidentifikasi pengaruh unsur aluminium dan krom dalam limonit. Identifikasi dilakukan dengan XRD mikroskop dan TEM dan uji pencairan batubara dengan menggunakan katalis besi. Pembuatan geitit dimulai dari pelarutan bahan baku pirit dan atau ferosulfat dengan asam sulfat. Variabel yang diamati adalah persen padatan, konsentrasi asam sulfat, suhu dan waktu relasi filtrat selanjutnya dioksidasi dengan oksigen pada suasana basa. Kondisi optimal pelarutan pirit adalah waktu reaksi 700C, suhu reaksi 1 jam, konsentrasi asam sulfat 15 %, dan persen padatan adalah 25 %.

Continue reading »

Mar 25

Dalam rangka swasembada kokas pengecoran dari batubara Indonesia, sejak tahun 1990 telah dilakukan pembuatan kokas dengan system double procces atau melalui sistem pembriketan. Batubara dari berbagai lokasi penambangan telah dicoba antara lain batubara Ombilin, Satui, Bukit Asam, dan Tanjung. Jenis tungku karbonasi yang digunakan juga bervariasi antara lain tungku beehive, tungku rexco dan tungku terowongan (tunnel kiln). Penggunaan tungku beehive dan tungku rexco untuk karbonisaasi batubara kurang cocok karena kedua tungku tersebut membutuhkan umpan batubara butiran besar (>5 cm) sedangkan batubara Indonesia umumnya akan pecah saat penyimpanan di stockpile. Continue reading »

Mar 25

Propinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah penghasil utama batubara di Indonesia. Beberapa tambang batubara ini berlokasi di sekitar daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Namun demikian, tidak hanya kegiatan pertambangan batubara saja, berbagai industri juga terdapat di sekitar DAS Mahakam Berbagai kegiatan ini menimbulkan tekanan terhadap sungai Mahakam, sehingga menyebabkan turunnya kualitas lingkungan. Peneilitian ini dilakukan untuk memantau  limbah hasil pertambangan batubara, sekaligus juga merupakan pelengkap dari Program Peduli Mahakam, yang merupakan kolaborasi antara Puslitbang tekMIRA dan JICA. Continue reading »