RANCANGAN DASAR PROSES DAN KAJIAN EKONOMI PRODUKSI KARBON AKTIF BERBASIS BATUBARA KAJIAN PENGARUH KERUSAKAN BATUAN AKIBAT PELEDAKAN TERHADAP KELONGSORAN LERENG PADA AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA
May 26


Pemasangan rangkaian power box

Kecelakaan kerja tambang yang sering terjadi pada metode tambang batubara bawah tanah, antara lain ledakan gas dan debu tambang, keruntuhan batuan atap, dan terjadinya ambrukan pada terowongan.
Penelitian ini bertujuan menghasilkan teknologi tepat guna yang dapat digunakan sebagai sistem monitoring secara terpadu kondisi tambang batubara bawah tanah.

Metodologi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan memperhatikan tahapan kegiatan perancangan suatu alat, mulai dari pemilihan peralatan dan bahan, perancangan dan perangkaian sistem, uji coba alat dan sistem di studio, perbaikan dan penyempurnaan sistem, terakhir dilakukan pemasangan, uji coba dan penerapan sistem di lokasi tambang batubara bawah tanah secara kontinu dalam jangka waktu yang lebih lama. Untuk memperoleh hasil yang optimal, dilakukan kajian-kajian dan penyesuaian terhadap komponen dan bahan yang digunakan.

Sistem dibuat agar dapat memonitor secara real time kondisi di dalam tambang, sensor-sensor dipasang pada beberapa lokasi pengamatan yang dekat dengan pemuka kerja (front).

Sistem yang dirancang terdiri dari 3 rangkaian utama antara lain : rangkaian microcontroller, rangkaian repeater, dan rangkaian radio modem. Masing-masing terangkai dan terpasang dalam power box yang terhubung dengan arus listrik. Kotak power box tersebut khusus didesain agar kuat dan aman untuk digunakan pada tambang bawah tanah.

Kabel data yang digunakan terdiri dari 16 pasang, namun yang digunakan hanya 3 kabel, yaitu kabel hitam, hijau dan biru. Pin pada konektor yang digunakan adalah pin 4, 5, dan 6. 16 pasang kabel tersebut dimaksudkan sebagai persiapan untuk pengembangan lebih lanjut.

Pemasangan dan uji coba sistem monitoring dilakukan di tambang batubara bawah tanah Sawahluwung, PT. Bukit Asam, Unit Penambangan Ombilin, Sawahlunto, Sumatera Barat. Kemajuan tambang pada lokasi ini telah mencapai kurang lebih 2 km dari mulut tambang. Dari hasil diskusi dan evaluasi lokasi dan kondisi tambang, titik penempatan sensor dilakukan di sekitar Junction 5C (J5C).

Kegiatan running test ini dilakukan dengan menghubungkan seluruh jaringan dengan CMS Software, sehingga kondisi di dalam tambang batubara dapat dimonitor secara real time dari ruang kontrol di permukaan tambang. Untuk mendeteksi pengiriman data, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengoperasikan CMS Software pada shortcut yang dapat ditemukan di layar monitor atau menggunakan program termite, setelah data muncul di layar monitor dilakukan proses perekaman. Proses perekaman dilakukan dalam jangka waktu setiap 1 menit, pengaturan jangka waktu perekaman dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Sistem ini dilengkapi dengan baterai kering dan juga charger dalam setiap rangkaian, sehingga apabila listrik padam, sistem masih dapat bekerja selama kurang lebih 8 jam sesuai dengan kapasitas dari baterai kering. Selanjutnya kegiatan perekaman dilakukan secara manual di ruang kontrol, perekaman dilakukan setiap hari pada setiap jam kerja.

Dari hasil uji coba dan running test di lokasi tambang batubara bawah tanah Sawahluwung - Sawahlunto, seluruh sistem telah terintegrasi mulai dari dalam tambang hingga ke permukaan tambang dengan baik. Sistem monitoring terpadu ini telah dapat digunakan untuk melakukan monitoring kondisi tambang batubara bawah tanah. Sistem yang dipasang dapat memantau kondisi di dalam tambang dari permukaan tambang. Dari sistem yang dirancang, kondisi tambang yang dapat dipantau antara lain: kondisi udara, kondisi gas, kondisi batuan atap, dan temperatur batubara.

Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan dan saran sebagai berikut:

  • Pengembangan ini dilaksanakan dalam rangka membuat sistem pemantauan secara terpadu kondisi tambang batubara bawah tanah; dan menyediakan informasi secara real time kondisi gas, kondisi udara tambang, kondisi batuan atap, dan temperatur batubara.
  • Uji coba dilakukan di tambang batubara bawah tanah Sawahluwung, Sawahlunto, Sumatera Barat. Dari hasil uji coba, sistem terbukti dapat melakukan monitoring kondisi tambang batubara bawah tanah secara terpadu dan terintegrasi sampai ke ruang kontrol di permukaan tambang.
  • Hasil pembacaan pada alat monitoring gas karbon monoksida (CO) dan oksigen (O2) masih belum stabil (banyak noise). Oleh sebab itu, masih diperlukan penyempurnaan dan kajian lebih lanjut pada kedua alat monitoring gas tersebut.
  • Masih perlu penambahan kapasitas dan pengembangan program dan database sistem.
  • Ke depan, sistem ini akan dikembangkan dengan menambahkan sistem pengendalian keselamatan kerja tambang batubara bawah tanah.***

Leave a Reply