KAJIAN PENGARUH KERUSAKAN BATUAN AKIBAT PELEDAKAN TERHADAP KELONGSORAN LERENG PADA AKTIVITAS PENAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA TUNGKU PEMBAKAR TER : MENGUBAH LIMBAH B3 BATUBARA MENJADI ENERGI
Apr 17

Akuabat adalah campuran batubara halus, air, dan zat aditif membentuk suspensi kental yang homogen dan stabil selama penyimpanan, pengangkutan, dan pembakaran.

Batubara peringkat rendah sebagai bahan baku pembuatan akuabat, perlu diproses terlebih dahulu melalui proses upgraded brown coal (UBC) atau hot thermal drying (HTD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa batubara hasil UBC dan HTD dapat menjadi bahan baku pembuatan akuabat yang cocok untuk digunakan sebagai bahan bakar boiler menggantikan minyak berat.


Peralatan pembuatan Akuabat (CWF)

Keunggulan Teknologi

Teknologi pembuatan akuabat cukup sederhana, yaitu dengan mencampurkan batubara dan air dalam perbandingan tertentu. Namun karena adanya perbedaan berat jenis, batubara cenderung memisah membentuk suatu endapan dalam air. Untuk mencegah hal tersebut, maka perlu ditambahkan suatu bahan aditif yang biasanya berupa bahan kimia dalam jumlah relatif kecil (< 1%).

Sebagai bahan bakar, ada beberapa karakteristik akuabat yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Stabil, baik selama penyimpanan, pengangkutan maupun pembakaran;
  • Mempunyai konsentrasi batubara yang tinggi;
  • Mudah dialirkan melalui pipa, baik saat pengangkutan maupun saat pembakaran;
  • Mudah dibakar dengan temperatur nyala yang tinggi.

Penelitian pembuatan dan pembakaran akuabat skala pilot dengan kapasitas 4 ton/hari telah dilakukan di Palimanan, Cirebon. Hasilnya menunjukkan bahwa batubara hasil proses upgraded brown coal (UBC) maupun hot thermal drying (HTD) dapat digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi akuabat dengan sifat alir dan sifat pembakaran yang baik, yaitu apparent viscosity < 1 Pa.s, terbakar pada suhu awal tungku 600ºC, dan mencapai kestabilan setelah 30 menit dengan suhu > 800ºC. Kondisi ini dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler pada industri untuk menghasilkan uap.

Keuntungan Penggunaan Akuabat

  • Sifat alirnya yang tergolong bersifat cairan (fluida) sama dengan sifat alir bahan bakar minyak (BBM);
  • Dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar cair menggantikan minyak berat (heavy oil) di kilang-kilang minyak atau industri lainnya yang biasa menggunakan minyak berat sebagai bahan bakar untuk pengolahan produknya;
  • Penanganannya sama dengan minyak berat. Memungkinkan pengiriman/ pengangkutan aquabat diantara berbagai lokasi di dalam/luar instalasi/pabrik lewat pipa;
  • Dapat menggunakan boiler yang sama dengan boiler yang biasa digunakan untuk minyak berat dengan sedikit modifikasi;
  • Batubara dalam bentuk suspensi dapat ditangani secara lebih bersih sehingga menunjang program bersih lingkungan dan terhindar dari kemungkinan terjadinya pembakaran spontan, peledakan, dan masalah debu yang biasa ditimbulkan batubara dalam bentuk serbuk.


Bagan alir proses UBC dan pembuatan CWF


Percobaan pembuatan CWF


Nyala api pembakaran CWF

Potensi Aplikasi

Penggunaan akuabat sebagai bahan bakar mempunyai peluang yang sangat besar untuk diterapkan sebagai pengganti minyak berat pada industri yang menggunakan boiler. Jika kebutuhan minyak berat untuk industri yang berpotensi beralih ke akuabat mencapai 3,2 juta kiloliter/tahun dengan biaya sebesar Rp. 20,48 triliun (harga minyak berat = Rp. 6,4 juta/kiloliter) (PT. PERTAMINA 2011). Jika industri tersebut beralih ke akuabat, maka kebutuhan akuabat adalah 6,4 juta kiloliter/tahun (untuk menghasilkan energi yang sama, 1 kiloliter minyak berat setara dengan sekitar 2 kiloliter akuabat) dengan biaya sebesar Rp. 11,52 triliun (harga akuabat = Rp. 1,8 juta/kiloliter). Dari pengalihan minyak berat ke akuabat diperoleh penghematan sebesar Rp 8,96 triliun/tahun.

Inovator

Datin Fatia Umar (datinf@tekmira.esdm.go.id), Liston Setiawan, Dedy Yaskuri, Toton Sentana Kunrat, Tatang Kuswara.

Leave a Reply