APLIKASI LOGGING GEOFISIK HIRAT DAN FULL-WAVEFORM COMPENSATED SONIC UNTUK PEMERIKSAAN KONSTRUKSI PADA SUMUR DALAM (DEEP WELL) PELINDIAN BIJIH EMAS DENGAN LARUTAN AMONIA TIOSULFAT (BATCH SCALE)
Mar 19

Emisi gas buangan dari peningkatan konsumsi batubara akibat meningkatnya kebutuhan energi listrik akan berdampak pada kualitas udara disekitar kegiatan pembangkitlistrik. Sebagai antisipasai terhadap peningkatan emisi gas buang maka perlu pemikiran untuk melakukan pemantauan emisi dari cerobong PLTU berbahan bakar batubara yang saat ini data pemantauan emisinya masih terbatas. Pemantauan kualitas udara ini dapat membantu industri dalam pengendalian pencemaran udara.

Maksud dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dalam penanganan  pemantauan kualitas udara (emisi sumber tidak bergerak dan ambien). Adapun tujuan kegiatan penelitian adalah mengukur emisi cerobong PLTU dan menentukan prakiraan sebaran bahan pencemarnya dengan sasaran akhir dari kegiatan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan Puslitbang tekMIRA dalam memecahkan permasalahan lingkungan khususnya pencemaran udara akibat emisi gas buang dari sumber tak bergerak.

Kegiatan pemantauan (monitoring) emisi pembakaran batubara pada PLTU dan penanganannya dilakukan di PLTU Suralaya, Cilegon Banten, PLTU Paiton, Probolinggo Jawa Timur, dan PLTU Bukit Asam, Tanjung Enim Sumatera Selatan. Data primer dan sekunder yang diperoleh selanjutnya diolah dan dievaluasi pengambilan data primer dilakukan dengan mengacu pada metode-metode SNI.

Hasil pemantauan berkala udara emisi dari tahun 2004-2007 menunjukan nilai konsentrasi rata-rata SO2 antara 9.38-671.75 mg/m3, NO2 6.84-442.91 mg/m3 dan debu 28.56-36502 mg/m3. Adapun hasil pengukuran lapangan di tiap lokasi studi adalah 28.28-548.58 SO2 mg/m3, 84.78-196.70 mg NO2/m3, dan 59.05 -82.56 mg debu/m3.

Kisaran konsentrasi rata-rata pada pemantauan berkala dari tahun 2004 – 2007 untuk udara ambien adalah 1.52-73.5 mg SO2/m3, 1.68-197.24 mg NO2/m3, dan 45.75-518 mg debu/m3. Hasi pengamatan lapangan di tiap lokasi studi adalah 0.25-7.13 mg SO2/m3, 42-16.86 mg NO2/m3 dan 20-247 mg debu/m3.

Hasil kegiatan memberikan gambaran bahwa semua PLTU Di lokasi studi telah menjalankan upaya-upaya yang berkaitan dengan pengendalian pencemaran udara dengan menerapkan teknologi bersih (elektrostatik prespitator, flue gas desulfirization, Low NOx burner) dan pemantauan berkala terhadap kualitas udara emisi dan udara ambien. Sedangkan hasil perhitungan prakiraan penyebaran terlihat adanya pengaruh ketinggian cerobong. Data pemantauan kualitas udara dari tahun 2004 s.d. 2007 dan hasil pengukuran di tiap lokasi studi secara umum masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.KEP-13 / MENLH / 3 /1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Baergerak Lampiran III B dan PPRI No.41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.***

Leave a Reply