IDENTIFIKASI POTENSI SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA PADA RENCANA PEMBANGUNAN PLTU BERBAHAN BAKAR BATUBARA HALUS DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA KAJIAN BATUBARA NASIONAL
Mar 25

Komoditi bahan galian industri (BGI) merupakan salah satu produk industri hulu (pertambangan) yang memberi kontribusi pada industri manufaktur dan konstruksi sebagai pengguna utma. Pada triwulan 1 tahun 2006. kontribusi BGI (sektor pertambangan dan penggalian) pada Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 10,51 % atau nomor empat di bawah industri pengolahan (manufaktur) yang sebesar 28,72 %.

Ditinjau dari aspek sumber daya 10 komoditi yang menjadi objek kajian, batu gamping memiliki sumber daya terbesar yakni, 12,5 milyar ton, disusul kemudian oleh granit (10,7 miyar ton), marmer (7,1 milyar ton), pasir kuarsa (4,49  milyar ton), dolomit (1,2 milyar ton), dan kaolin (0,73 milyar ton). Bahan galian lain, yaitu bentonit, belerang, feldspar, dan zeolit, rata-rata di bawah 0,5 milyar ton.

Meskipun era otonomi daerah kurang memberikan iklim usaha yang kondusif, secara umum perkembangan komoditi BGI tetap menunjukkan  peningkatan produksi selama kurun waktu 2001-2005. Bahan galian batu gamping, bentonit, marmer, pasir kuarsa, dan granit tercatat mengalami peningkatan produksi, masing-masing sebesar 44,8%, 29,4%, 28,1%, 8,0%, dan 0,8%. Sedangkan lima bahan galian lainnya mengalami penurunan antara 2,1% (terkecil, kaolin) – 30,5% (terbesar, belerang). Kondisi yang hampir serupa terjadi pada aspek konsumsi, impor, dan ekspor yang juga mengalami peningkatan dan penurunan.

Hasil analisis menunjukkan, komoditi BGI masih tetap prospektif untuk diusahakan jika pemerintah melakukan perbaikan dalam tatanan kebijakan. Di samping itu, peran litbang masih perlu ditingkatkan agar komoditi BGI Indonesia memiliki nilai tambah yang lebih besar lagi.

Comments are closed.