OPTIMASI REKARBONASI KOKAS BENTUK SILINDER PADA UNIT KOKAS PALIMANAN PEMANTAUAN DAN ANALISIS PERKEMBANGAN TERKINI (CURRENT ISSUES) PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA TAHUN 2006
Mar 25

Ekstraksi emas dengan teknik sianidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini proses sianidasi menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan sangat serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidakmampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perusahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas ,menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan yang sangat serius.

Upaya mencari alternatif metode bukan sianida untuk proses ekstraksi emas telah dilakukan intensif sejak tahun 1970-an. Dari sejumlah proses alternatif, pelindian tiosulfat merupakan proses yang paling menjanjikan serta telah diterapkan secara komersial di beberapa negara. Oleh karena itu, penelitian yang mengkaji pelindian tiosulfat ini akan mempunyai peran berharga dalam menjelaskan dan mensosialisasikan metode ekstaksi emas dengan bahan yang ramah lingkungan, berbiaya operasional yang kompetitif terhadap metode sianidasi serta kinerja proses yang sebnading dengan proses sianidasi.

Kajian pada tahun pertama pelindian bijih emas dengan media pelndi tiosulfat adalah optimasi proses pelindian tiosulfat sistem batch dan karakteristik proses pelindian tipe bijih emas refraktori yang mencakup masalah konsumsi tiosulfat, perolehsn emas, konsentrasi katalis tembaga, pH larutan dan ammonia serta laju aerasi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa konsumsi tiosulfat sangat dipengaruhi oleh aerasi, konsentrasi penambahan ammonia, pH larutan dan besaran konsentrasi awal tiosulfat. Penggunaan aerasi dalam proses pelindian akan meningkat kecepatan kehilangan tiosulfat; sebaliknya, penambahan konsentrasi ammonia dan pengaturan pH larutan pelindian akan mengurangi jumlah kehilangan tiosulfat. Proses pelindian bijih emas yang paling efektif dicapaiĀ  untuk konsentrasi tiosulfat 0,1 M dengan perolehan emas 80%.

Dari penelitian ini diperoleh data parameter utama yang paling berpengaruh dalam proses pelindian bijih emas dengan media tiosulfat, serta pengalaman praktis mengenai metode pelindian tiosulfat untuk ekstraksi emas dari bijih emas, terutama dalam memahami mekanisme dan pengendalian proses. Hal ini akan menjadi dasar teknis untuk merancang pengembangan ke skala sistem kontinu (bench scale) yang dapat dilanjutkan ke skala pilot plant.

Comments are closed.