May 09

Logam emas mempunyai daya tarik tersendiri karena perannya yang berpengaruh terhadap tatanan perekonomian suatu negara. Sebagai penghasil devisa Indonesia dari sektor pertambangan endapan emas tersebar hampir di seluruh negeri ini. Sayangnya -terlepas dari besar kecilnya cadangan- pengolahan emas di negeri ini ada yang masih dilakukan secara sederhana, yaitu dengan menggunakan palong dan amalgamasi langsung. Hal ini umum terjadi pada perusahaan-perusahaan berskala menengah ke bawah termasuk para penambangan rakyat. Amalgamasi bermasalah terhadap lingkungan. Sifatnya yang beracun tidak saja berpengaruh terhadap hewan dan tumbuhan tetapi juga manusia. Meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan yang bersih mendorong orang mencari pengolahan emas alternatif yang ramah lingkungan. Konsentrasi gaya berat sebagai salah satu metode pengolahan emas diharapkan dapat menjawab tantangan tadi. Continue reading »

Mar 19

Ekstraksi emas dengan sanidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidakmampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perusahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan sehingga dapat menimbulkan masalah yang sangat serius. Continue reading »

Mar 17

Aglomerasi emas batubara (Coal Gold Agglomeration-CGA) adalah inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Dimulai dengan proses aglomerasi minyak batubara (Coal Oil Agglomeratin-COA) yang menunjukan bahwa pengaruh kandungan karbon batubara penting dalam  membentuk aglomerat tetapi tidak dominan. Pengaruh yang lebih dominan adalah kandungan abu batubara yang harus serendah mungkin. Emas dari bijih alluvial mudah ditangkap secara selektif dengan teknologon CGA karena sudah teribelasi sempurna. Emas dari bijih oksidis atau sulfidis relative agak sulit dipisahkan karena masih interlock dengan mineral lain, kecuali ditambahkan reagen permukaan mineral pembawa emas. Laju penangkapan emas lebih cepat jika menggunakan  batubara abu rendah.

Secara umum, teknologi CGA mampu menangkap emas cukup banyak  (recovery 50-85%) dengan kadar meningkat sekitar 7-16 kali lipat dari bahan bakunya. Dibandingkan dengan proses amalgamasi, teknologi CGA lebih efektif.

Feb 18

Limbah cair pengolahan bijih emas dan pencucian batubara umumnya mengandung berbagai jenis logam berat antara lain besi (Fe), tembaga (Mn), timbal (Pb) dan seng (Zn). Logam-logam tersebut dapat berasal dari kegiatan pengupasan tanah penutup dan proses pengolahannya. Continue reading »

Feb 17

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengubah cara pengolahan emas skala kecil yang biasanya menggunakan air raksa sebagai media penangkap emas dengan cara melebur langsung konsentrat emas dengan menggunakan batubara sebagai reduktornya.

Contoh konsentrat emas mengandung mangan yang cukup tinggi yakni Au=217,8 g/t, Ag=8219,7 g/t, Mn=18% dan Cu=0,023%.

Setelah proses peleburan menghasilkan produk Au=67,68% dan Ag=40,57% dengan recovery Au=85,40% dan Ag=75,80%.