Mar 25

Ekstraksi emas dengan teknik sianidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini proses sianidasi menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan sangat serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidakmampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perusahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas ,menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan yang sangat serius. Continue reading »

Mar 19

Ekstraksi emas dengan sanidasi telah lama digunakan secara komersial namun saat ini menjadi masalah yang sangat berat karena limbah proses yang dihasilkan menimbulkan dampak lingkungan serius sebagai akibat dari senyawa sianida yang sangat toksik. Di samping itu, ketidak mampuan larutan sianida dalam melindi bijih emas refraktori karbonan (carbonaceous ores) dan kompleks (auriferous ores) secara efektif merupakan masalah yang harus diantisipasi. Perisahaan tambang di Indonesia masih menggunakan proses pelindian sianida. Di samping itu, pertambangan rakyat makin meluas menggunakan proses sianidasi namun sangat minim dalam pengelolaan dampak lingkungan sehingga dapat menimbulkan masalah yang sangat serius. Continue reading »

Mar 17

Aglomerasi emas batubara (Coal Gold Agglomeration-CGA) adalah inovasi teknologi yang ramah lingkungan. Dimulai dengan proses aglomerasi minyak batubara (Coal Oil Agglomeratin-COA) yang menunjukan bahwa pengaruh kandungan karbon batubara penting dalam  membentuk aglomerat tetapi tidak dominan. Pengaruh yang lebih dominan adalah kandungan abu batubara yang harus serendah mungkin. Emas dari bijih alluvial mudah ditangkap secara selektif dengan teknologon CGA karena sudah teribelasi sempurna. Emas dari bijih oksidis atau sulfidis relative agak sulit dipisahkan karena masih interlock dengan mineral lain, kecuali ditambahkan reagen permukaan mineral pembawa emas. Laju penangkapan emas lebih cepat jika menggunakan  batubara abu rendah.

Secara umum, teknologi CGA mampu menangkap emas cukup banyak  (recovery 50-85%) dengan kadar meningkat sekitar 7-16 kali lipat dari bahan bakunya. Dibandingkan dengan proses amalgamasi, teknologi CGA lebih efektif.