May 08

Salah satu makna dari UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara adalah tentang kewajiban perusahaan di dalam mengoptimalkan kegiatan usaha pertambangan. Untuk mengoptimalkan pengusahaan dan penerimaan negara dari pertambangan mineral, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah (PNT) Mineral Melalui Pengolahan Dan Pemurnian Mineral. Continue reading »

Apr 08

Kokas pengecoran umumnya dibuat dari batu bara jenis coking coal. Bahan baku kokas pengecoran lainnya dapat berupa green coke atau arang kayu atau material karbon lainnya.

Pembuatan kokas pengecoran dari batubara non coking hanya akan menghasilkan kokas yang rapuh, mudah hancur sehingga tidak dapat digunakan pada proses pengecoran besi atau logam.

Indonesia memiliki cadangan batubara berlimpah sekitar 28,17 juta ton, namun tidak mempunyai cadangan coking coal. Untuk mendapatkan kokas pengecoran dari batubara Indonesia perlu modifikasi alur proses pembuatan kokas pengecoran. Modifikasi tersebut adalah melalui proses pembriketan dengan bahan pengikat yang bersifat coking substance (dapat mengokas) dan dilanjutkan rekarbonisasi. Aspal petroleum adalah salah satu bahan pengikat yang mudah diperoleh bahkan diproduksi oleh perusahaan kilang minyak di Indonesia. Continue reading »

Feb 22

Batubara merupakan energi yang cukup andal untuk menambah pasokan bahan bakar minyak mengingat cadangannya yang cukup besar. Dalam perkembangannya, batubara diharapkan dapat menjadi jembatan dari energi konvensional (terutama minyak) ke energi non-konvensional yang lebih bersih dan dapat diperbarui. Namun kualitas batubara Indonesia yang pada umumnya didominasi oleh batubara peringkat rendah (lignit), yaitu sekitar 70% dari total sumber daya, belum banyak dieksploitasi karena masih mengalami kendala dalam transportasi dan pemanfaatan. Batubara peringkat rendah ini mempunyai kandungan air total cukup tinggi sehingga nilai kalor menjadi rendah. Dengan demikian diperlukan teknologi khusus untuk memanfaatkan batubara peringkat rendah tersebut agar dapat bersaing dengan batubara peringkat tinggi yang cadangannya sudah mulai menipis. Continue reading »

Mar 03

Dalam setiap kegiatan produksi selain dihasilkan suatu produk yang mempunyai nilai tambah tinggi, juga dihasilkan limbah baik limbah padat, cair, maupun gas. Termasuk di dalamnya kegiatan industri pertambangan dan kimia yang menggunakan bahan baku dari bahan galian tambang. Beberapa jenis industri kimia yang menghasilkan limbah padat antara lain industri pembuatan antena yang menggunakan bahan baku aluminium menghasilkan limbah berupa sludge mengandung aluminium, industri elektronika yang menggunakan bahan baku lempengan logam tembaga menghasilkan limbah cair yang mengandung tembaga klorida, dan industri permesinan yang menangani material-material terbuat dari besi menghasilkan limbah padat berupa skrap besi. Jumlah limbah yang dihasilkan tersebut cukup besar sesuai dengan banyaknya pabrik yang melakukan aktifitas kegiatan produksi. Sebagai contoh pabrik antena yang ada di daerah Gedebage menghasilkan sludge sebanyak 10 ton per bulan. Pabrik elektronika didaerah Cicalengka menghasilkan limbah yang mengandung tembaga mencapai  40 ton / bulan. Sementara limbah skrap besi jumlahnya cukup besar dan tersebar diberbagai lokasi. Apabila limbah-limbah tersebut di atas tidak dikelola dan diolah dengan baik akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Dengan menggunakan metode pengolahan limbah yang tepat, selain terjadinya pencemaran lingkungan dapat dicegah, juga dapat diperoleh nilai tambah yang tinggi, karena limbah-limbah tersebut di dalamnya masih terkandung komponen-komponen berharga seperti Al, Cu, dan Fe yang masih memiliki nilai ekonomi.

Continue reading »

Mar 27

Bijih besi laterit banyak terdapat di beberapa tempat di Indonesia seperti pulau Sebuku, Gunung kukusan, Geronggang (Kalimantan Selatan), Pomalaa (Sulawesi Tenggara), Halmahera, diperkirakan jumlah endapan bijih besi laterit ini mencapai 950.000.000 ton dengan kandungan Fe 39,8 – 55,2%. Karakteristik bijih besi laterit memiliki kandungan besi yang rendah, kandungan logam-logam pengotor seperti nikel, krom, kobal, mangan dan kandungan air yang tinggi. Dengan karakteristik demikian bijih besi laterit hampir belum dapat termanfaatkan dalam industri besi-baja. Pada umumnya industri besi baja membutuhkan kadar besi 60-69%, sedangkan PT. Krakatau Steel membutuhkan bijih dengan kandungan Fe minimum 65%. Pada saat ini belum ada tekologi yang efektif dan ekonomis melakukan peningkatan kadar bijih besi jenis lateritik, yang dapat memenuhi persyaratan sebagai bahan baku industri besi baja. Continue reading »

Mar 27

Penelitian pengembangan karbon aktif ini merupakan penelitian lanjutan yang menitikberatkan pada pengamatan hasil percobaan aktifasi pada reaktor dengan kapasitas 60 kg/jam yang dilakukan di Palimanan, Cirebon. Batubara yang digunakan adalah batubara peringkat rendah.

Continue reading »

Mar 27

Kelongsoran lereng suatu lubang bukaan tambang dapat mengganggu kelancaran kegiatan penambangan, oleh karena itu diperlukan kajian untuk mengetahui aspek geoteknik lereng tersebut dan juga kimia mineral batuan, supaya dapat diketahui cara penanggulan yang baik dan cepat. Secara keseluruhan kondisi lereng dengan factor keamanan = 2,0 cukup stabil walaupun sering terjadian jatuhan material batuan, terutam pada muka lereng yang tersusun oleh batu lempung hal ini disebabkan oleh kandungan kimia dan mineral batu lempung yang kurang resisten terhadap pelapukan. Continue reading »

Mar 27

Salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam proses pengolahan feldspar adalah memonitor variable proses yang diukur oleh sistem kontrol berbasis computer. Upaya ini dilakukan dengan cara memantau variable proses mulai dari proses aliran umpan, berat umpan yang diterima, tingkat kekentalan, tingkat keasaman dan suhu pengeringan. Continue reading »

Mar 27

Dalam rangka pengembangan kemampuan pembuatan desain dan rancang bangun, telah dilakukan pembuatan desain gasifier batubara kapasitas 150 kg/jam dan rancang bangun sebagian reactor berupa rangkaian tabung reactor bagian luar (jaket). Continue reading »

Mar 27

Percobaan gasifikasi dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan menggunakan reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65 mesh). Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. Pada kondisi fluidisasi suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. Suhu reaktor sistem unggun fluidisasi adalah 900oC. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas) dilakukan pemurnian dengan alat cyclone, condenser dan scrubber. Sesudah syngas dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas chromatography (GC). Continue reading »