Dec 17

Harian Jumat, 17 Desember 2010 | 04:05 WIB

KOMPAS/FRANS SARONG
Penambangan mangan di Kabupaten Kupang, NTT, kian marak dan meluas meski bupati setempat, Ayub Titu Eki, hingga Selasa (12/10) secara resmi belum pernah menandatangani satupun izin usaha penambangan. Salah satu lokasi di antaranya di Sumlili, Kecamatan Kupang Barat.
Oleh Frans Sarong Continue reading »

Dec 15

Harian Pikiran Rakyat Rabu, 15 Desember 2010
Perahu dan Rumpon juga Dijanjikan kepada Nelayan Pam Nappas

PEMBANGUNAN “breakwater” (tanggul pemecah ombak) PLTU Palabuhanratu. Pengerjaan “breakwater” tersebut, bagian dari pembuatan dermaga PLTU untuk tempat sandar kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara. Pemkab Sukabumi dan PLTU Palabuhanratu menjanjikan bantuan perahu dan rumpon bagi nelayan sekitar.* ADANG JUKARDI/”PR”SUKABUMI, (PR).-
Janji pemberian perahu dan rumpon yang dilontarkan PLN PLTU dan Pemkab Sukabumi untuk nelayan di bawah naungan LSM Himpunan Putra Daerah Kabupaten Sukabumi (HPDKS), ternyata juga dijanjikan kepada nelayan LSM Paguyuban Masyarakat Nelayan Petani Palabuhanratu Sukabumi (Pam Nappas).

“Ada tiga belas butir kesepakatan antara PLN, pemda, dan kami. Hal itu merupakan rekomendasi kami dari hasil rapat sosialisasi tentang pengerukan dan pembuangan pasir ke tengah laut projek PLTU di Gedung DPRD tanggal 20 Oktober lalu,” kata Dewan Pembina LSM Pam Nappas, Rusli Bramsyah, S.H., didampingi Ketua LSM Pam Nappas, Redi Santosa ketika ditemui di sekretariatnya di Desa Cidadap, Kec. Simpenan, Selasa (14/12). Continue reading »

Dec 14

Harian Pikiran Rakyat Selasa, 14 Desember 2010
Audiensi Nelayan dan PLN Dilakukan Tertutup di Ruang Wabup

SEORANG nelayan beristirahat di antara ratusan perahu yang tidak melaut di Pantai Cipatuguran, Kec. Palabuhanratu, Kab. Sukabumi, Senin (13/12). Nelayan Cipatuguran mengeluhkan pengerukan dan pembuangan pasir ke tengah laut dari projek PLTU Palabuhanratu yang dinilai telah merugikan mereka.* ADANG JUKARDI/”PR”SUKABUMI, (PR).-
Sekitar seratus nelayan Cipatuguran, Kec. Palabuhanratu, yang tergabung dalam wadah LSM Himpunan Putra Daerah Kabupaten Sukabumi (HPDKS) mendatangi kantor Sekretariat Daerah (Setda) Kab. Sukabumi di Palabuhanratu, Senin (13/12). Kedatangan mereka untuk menyampaikan empat tuntutan yang harus dipertanggungjawabkan PLN projek PLTU Palabuhanratu yang dinilai ingkar janji terhadap kesepakatan sebelumnya. Continue reading »

Dec 13

Harian Pikiran Rakyat Senin, 13 Desember 2010

Kesepakatan Belum Dipenuhi, Pasir Sudah Dibuang ke Laut

Pembangunan dermaga projek PLTU Palabuhanratu, Kab. Sukabumi, beberapa waktu lalu. Dalam pembangunan dermaga tersebut, pasir hasil pengerukan kolam dermaga itu sudah dise-pakati dibuang ke tengah laut.* ADANG JUKARDI/”PR”SUKABUMI, (PR).-
Masyarakat nelayan di Kampung Cipatuguran, Kel./Kec. Palabuhanratu menuntut pertanggungjawaban pihak PLN PLTU dan subkontraktornya tentang kesepakatan pembu- angan pasir hasil pengerukan pembuatan dermaga ke tengah laut. Nelayan menilai PLN telah melanggar kesepakatan dan ingkar janji.

“Kesepakatannya belum dipenuhi, tetapi PLN dan subkontraktornya sudah berani melakukan pengerukan pasir dan membuangnya ke tengah laut,” kata Ketua Nelayan Perahu Dogol Cipatuguran, Ade Supriadi (45) ketika ditemui di rumahnya di Cipatuguran, Minggu (12/12). Continue reading »

Nov 29

BIDANG ISU PERTAMBANGAN MINERBA

1. Kebijakan Minerba
2. Kebijakan Bauran Energi ( terkait batubara sebagai sumber energi alternatif)
3. Kasus Hukum Pertambangan

Continue reading »

Nov 16

Harian Kompas Selasa, 16 November 2010 | 05:11 WIB

Dengan atau tanpa beroperasinya pertambangan, masyarakat Indonesia masih tetap hidup dalam kemiskinan. Lihat saja betapa warga pedesaan di Blora, Jawa Tengah, banyak yang hidup pas-pasan meski pertambangan minyak beroperasi sejak zaman Hindia-Belanda.

Daerah asal penulis Pramoedya Ananta Toer itu merupakan salah satu basis kemiskinan dan gerakan ”merah” pada masa Orde Lama. Berada di antara pusat perminyakan dan industri kayu jati, warga pedesaan Blora toh tetap hidup miskin.

Kondisi serupa terlihat di daerah Babelan, Bekasi, Jawa Barat. Masyarakat Tionghoa peranakan dan Betawi sama-sama hidup marjinal di daerah yang kini menjadi salah satu sentra produksi migas. ”Jalanan hancur di daerah Babelan. Masyarakat Tionghoa dan Betawi kebanyakan masih bertani dan jadi kuli meski sudah satu dasawarsa lebih perusahaan minyak beroperasi di sana,” kata Oei Cin Eng, seorang aktivis budaya China Benteng asal Tangerang.

Lebih miris lagi situasi di daerah Balongan, Indramayu, pendidikan generasi muda di sana tergolong rendah. Bahkan, banyak perempuan muda yang akhirnya terjerat ke dunia prostitusi di Jakarta. Continue reading »

Nov 16

Harian Kompas Selasa, 16 November 2010 | 05:19 WIB

Mataram, Kompas – PT Newmont Nusa Tenggara, menurut rencana, memulai eksplorasi emas di Dusun Elang Dodo (Blok Elang), Desa Ropang, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, tahun 2011. Izin pertambangan emas dari pemerintah sudah keluar sejak Oktober lalu.

Lokasi eksplorasi di kawasan hutan tersebut diperkirakan memiliki potensi mineral emas dan tembaga lebih besar dibandingkan dengan lokasi penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saat ini di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

”Berapa besarnya, belum diketahui pasti karena masih perlu penelitian secara detail,” ujar Kasan Mulyono, Manajer Humas PT NNT di Benete, Desa Maluk, Sumbawa Barat, Senin (15/11). Continue reading »

Nov 15

Nov 09

Harian Kompas Selasa, 9 November 2010 | 03:57 WIB

MAGELANG, KOMPAS – Aktivitas penambangan pasir dan batu kembali marak di Kali Pabelan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hal sama ditemui di Kali Boyong, Sleman, DI Yogyakarta. Puluhan warga di Kelurahan Brontokusuman, Kota Yogyakarta, turut mengeruk pasir Kali Code untuk dijual.

Banjir lahar dingin dari Gunung Merapi membawa material vulkanik yang ditunggu penambang yang telah menganggur selama dua pekan. Karena itu, mereka nekat bekerja meski di bawah ancaman lahar dingin.

Di Kali Pabelan terdapat lebih dari lima lokasi pengambilan pasir. Sehari, sekitar 200 truk antre menuju lokasi penambangan. ”Kami harus mengantre empat hingga lima hari,” kata Abdul Fatah, penambang di Kali Pabelan, Senin (8/11). Wahyudin, penambang asal Srumbung, mengatakan, harga pasir meningkat dari Rp 70.000 menjadi Rp 100.000 per meter kubik. Continue reading »

Nov 04

Harian Kompas Kamis, 4 November 2010 | 04:02 WIB

BATAM, KOMPAS – Mulai awal November ini, Pemerintah Kota Batam bersama sejumlah instansi terkait menertibkan usaha liar penambangan pasir darat di Pulau Batam. Selama ini penambangan itu seperti dibiarkan sehingga menyebar hingga di 73 lokasi dengan total kawasan garapan seluas 84 hektar.

Hari Rabu (3/11), operasi penertiban terpadu dilakukan di lokasi penambangan terbesar di Kelurahan Batu Besar, Kecamatan Nongsa. Di tempat ini, luas kawasan penambangan liar sekitar 30-40 hektar. Sebelumnya, tempat ini berupa dataran dengan beragam vegetasi. Kini, setelah ditambang sekitar sepuluh tahun, tempat ini berubah menjadi danau dengan kedalaman 3-12 meter. Airnya payau akibat intrusi laut. Continue reading »