Oct 09

PLN Mengkaji Berbagai Opsi Pendanaan

Harian Kompas, Kamis, 9 Oktober 2008 | 02:35 WIB
Jakarta, Kompas – Pemerintah mewaspadai dampak krisis ekonomi global terhadap pembangunan proyek-proyek kelistrikan, terutama yang didanai modal dalam negeri. Namun, pemerintah yakin tidak akan terjadi pembatalan atas proyek-proyek yang sudah disetujui.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Rabu (8/10) di Jakarta, mengemukakan, proyek-proyek kelistrikan yang perlu dipantau itu sebagian besar berada di luar Jawa. ”Di luar Jawa kan banyak proyek pembangkit yang dayanya kecil, tetapi penting untuk mengatasi defisit kelistrikan. Sebagian besar menggunakan modal dalam negeri, sementara kondisinya sedang tidak menguntungkan. Inflasi terus naik, suku bunga juga,” papar Purnomo.

Data PT Perusahaan Listrik Negara menyebutkan, saat ini ada 11 proyek pembangkit listrik swasta yang dalam proses pembangunan dan 38 proyek dalam proses finalisasi pendanaan, dari keseluruhan 145 usulan proyek pembangkit.

Selain itu, ada 25 pembangkit listrik di luar Jawa milik PLN yang ditargetkan selesai pada 2010-2011. Pembangkit itu termasuk dalam proyek percepatan pembangkit 10.000 megawatt.

Meskipun pendanaan proyek bisa terhambat, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono menyatakan, dampak krisis tidak akan menyebabkan penghentian proyek. ”Kami belajar dari pengalaman krisis tahun 1998 ketika pemerintah harus menghentikan 27 proyek listrik swasta. Itu pengalaman paling buruk. Justru saat begini proyek infrastruktur harus jalan,” ujarnya.

Ditegaskan, pemerintah akan berupaya mengakomodasi jika ada rekalkulasi kebutuhan dana proyek. ”Persetujuan atas eskalasi nilai proyek akan diproses setelah diteliti Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan,” katanya.

Ditanggung kontraktor

Antisipasi dampak pengeringan likuiditas juga dilakukan PT PLN. Direktur Keuangan PT PLN Setio Anggoro Dewo menyatakan, sejumlah proyek 10.000 MW di luar Jawa, yang semula akan didanai melalui anggaran PLN, harus ditanggung oleh kontraktor yang memenangkan lelang pembangunan pembangkit. ”Ini sebenarnya kembali ke skema awal pendanaan proyek, yaitu 85 persen harus dibawa sendiri oleh kontraktor, 15 persen disediakan PLN,” tutur Setio.

Sampai saat ini, kontrak proyek 10.000 MW yang telah ditandatangani mencapai 8.700 MW. Untuk pembangunannya, PLN membutuhkan dana 4,4 miliar dollar AS dan Rp 17,5 triliun. PLN telah memperoleh komitmen pinjaman 3,4 miliar dollar AS dan Rp 13,5 triliun.

Untuk kekurangan dana valas yang mencapai 1 miliar dollar AS, Menurut Setio, kemungkinan besar PLN akan langsung mendekati perbankan China. Sebelumnya, PLN telah mendapatkan pinjaman dari Bank of China dan China Exim Bank.

”Sumber dana yang paling mungkin ya tinggal China karena Jepang dan Timur Tengah agak sulit. PLN melanjutkan pendekatan dengan perbankan China,” kata Setio.

PLN juga meninjau ulang rencana menerbitkan obligasi lokal senilai Rp 3 triliun yang semula akan dilakukan bulan November. ”Perseroan akan melihat opsi pendanaan yang mungkin, termasuk penggunaan dana pensiun nasional,” ujar Setio. (DOT)

Leave a Reply