Nov 19

Harian Kompas, Rabu, 19 November 2008 | 01:27 WIB
Pontianak, Kompas – Krisis keuangan global saat ini turut berdampak pada penurunan ekspor bauksit Kalimantan Barat ke China hingga 66 persen. Kondisi ini diperkirakan menurunkan pula pendapatan daerah, yang diperoleh dari perimbangan iuran pertambangan yang disetorkan ke pemerintah pusat.Kepala Dinas Pertambangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Kalbar Iskandar Zulkarnain di Pontianak, Selasa (18/11), mengatakan, produksi penambangan bauksit Kalbar oleh PT Harita yang memiliki wilayah konsesi di Kecamatan Kendawangan dan Labai, Kabupaten Ketapang, sekitar 750.000 ton per bulan dalam bentuk bahan baku (raw material). Produksi bauksit itu diekspor ke China. Di negara itu bauksit lalu diolah sebelum diekspor ke Amerika Serikat.

”Sejak krisis keuangan global akhir-akhir ini, produksi bauksit di Ketapang dikurangi karena pesanan dari China berkurang. Produksinya saat ini tinggal 250.000 ton per bulan,” kata Zulkarnain.

Dari pertambangan bauksit yang mulai dieksplorasi pada akhir 2003 itu, Kalbar mendapat pemasukan 16 persen dari royalti penjualan bauksit yang disetorkan kepada pemerintah pusat. Zulkarnain tidak menyampaikan nilai ekspor bauksit Kalbar ke China, tetapi total pendapatan yang diperoleh Kalbar dari perimbangan royalti itu sekitar Rp 10 miliar per tahun.

”Dengan adanya krisis dan penurunan produksi bauksit, pendapatan Kalbar diperkirakan juga berkurang,” katanya.

Krisis keuangan global, menurut Zulkarnain, juga berdampak pada molornya rencana pembangunan pabrik bauksit oleh PT Aneka Tambang Tbk di wilayah Toho, Kabupaten Pontianak, dan wilayah Tayan, Kabupaten Sanggau. PT Aneka Tambang yang seharusnya bisa memulai eksploitasi bauksit di Kalbar pada tahun 2009-2010, kemungkinan baru bisa beroperasi pada 2011.

”PT Aneka Tambang di Kalbar seharusnya tinggal membangun pabrik,” ujar Zulkarnain. (why)

Leave a Reply