Feb 23

Harian Koran Tempo, 23 Februari 2009
JAKARTA — Penjualan baja dalam negeri tahun ini diperkirakan stagnan atau sama dengan 2007 dan 2008, sebesar 8-9 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, 5,3 juta ton dipenuhi oleh produsen domestik dan 3,4 juta ton melalui impor.Sebelumnya pemerintah memberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 08/M-DAG/PER/2/2009 tentang Ketentuan Impor Besi atau Baja. Pasar baja domestik diperkirakan tidak berubah karena krisis ekonomi global. Peraturan yang akan berlaku mulai 1 April hingga 31 Desember 2010 itu berisi 202 nomor pos tarif besi dan baja impor hanya bisa diimpor oleh importir terdaftar dan importir produsen. Baja atau besi yang bisa diimpor adalah baja canai panas (HRC/P), baja canai dingin (CRC/S), baja lembaran berlapis, pipa las, wire rod, dan besi baja profil.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia atau Indonesia Iron and Steel Industry Association Hidajat Triseputro mengatakan pangsa pasar yang sama dengan sebelumnya bisa membuat industri baja domestik tetap bertahan. “Kalau angka pangsa pasar bisa sama dengan tahun lalu dan sebelumnya, itu sudah bagus. Paling tidak pemecatan pegawai bisa dicegah,” ujarnya kepada Tempo kemarin.

Dia berharap peraturan menteri itu mendorong penyerapan atas kelebihan pasokan besi dan baja sebanyak 2,5 juta ton dari produksi riil sekitar 4 juta ton per tahun. Produk baja yang tidak terserap pasar adalah jenis long product dan flat product segala ukuran.

Menurut Hidajat, peraturan tersebut akan mendorong penyerapan kelebihan stok dalam 3-4 bulan mendatang. Jika kelebihan stok terserap, tingkat produksi pun akan terdongkrak naik. Dia memperkirakan utilisasi bisa naik menjadi 70-80 persen jika peraturan itu efektif di lapangan.

Saat ini tingkat produksi (utilisasi) pabrik besi dan baja hanya 20-40 persen dari kapasitas. Pabrik-pabrik itu mengurangi produksi karena permintaan menurun. NIEKE INDRIETT

Leave a Reply