Feb 25

Ekspor Bahan Mentah Merugikan Perajin Lokal
Harian Kompas, Rabu, 25 Februari 2009 | 01:02 WIB
Bandung, Kompas – Penjualan batu mulia mentah ke luar negeri sangat merugikan karena nilai tambah tinggi yang seharusnya diperoleh perajin lokal menjadi hilang. Aktivitas itu tetap berjalan meski ekspor batu mentah sudah dilarang.Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Masyarakat Batu Indonesia Sujatmiko, di Bandung, Selasa (24/2), mengatakan, batu mulia mentah harganya meningkat 40 kali lebih besar setelah diolah dibandingkan dengan kalau dijual mentah. Jika diolah dengan mesin, harganya melonjak menjadi 150 kali.

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, Andri Slamet Subandrio, menambahkan, nilai batu mulia mentah hanya sekitar 10 persen dari harga produk itu jika sudah diolah. Tak jarang batu mulia yang dikirim ke luar negeri, diimpor kembali ke Indonesia setelah diolah.

Sujatmiko menyebutkan, pemotongan yang rapi dengan mesin membuat perolehan dari pengolahan batu juga lebih banyak. Harga batu pancawarna mentah, misalnya, sekitar Rp 5.000 per kilogram (kg). Sementara harga jasper merah mentah Rp 3.000 per kg dan krisokola kuarsa mentah Rp 10 juta per kg.

Menurut Sujatmiko, larangan ekspor bahan mentah tercantum dalam Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 385 Tahun 2004 tentang ketentuan umum di bidang ekspor. Bea dan Cukai diharapkan memiliki ketegasan terhadap larangan ekspor batu mulia itu.

Sujatmiko tidak mengetahui pasti kuantitas penjualan batu mulia ke luar negeri. Batu dikirim antara lain ke Jepang, China, Taiwan, dan Korea Selatan.

Menurut Sujatmiko, Pasar Rawa Bening di Jakarta Timur, yang menjadi pusat penjualan batu, justru banyak diisi produk impor dari empat negara itu.

Produk kayu ulin

Masih terkait ekspor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali menahan pengiriman produk kayu ulin bernilai miliaran rupiah karena bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Pemerintah sejak Januari lalu melarang ekspor produk kayu ulin bernilai lebih Rp 1 miliar, selain melalui Kalimantan

Larangan menyebabkan perajin gazebo di Bali rugi miliaran rupiah dan pesanan dari Eropa menjadi sepi. Usaha gazebo (bale dari kayu) menghasilkan produk bahan atap. Bahan baku yang digunakan umumnya kayu ulin asal Kalimantan.

”Kami membutuhkan penjelasan pemerintah terkait pelarangan itu untuk diteruskan kepada calon pemesan. Kalau sudah disosialisasikan, kami bisa mencarikan alternatif pengganti menggunakan kayu lain,” kata Made Krebak, perajin gazebo Bale-Bale, di Denpasar, Selasa.

Ekspor Bali untuk komoditas bahan baku dari kayu tahun 2007 sekitar 8,9 juta dollar AS atau sekitar Rp 89 miliar. (bay/ays)

One Response to “BATU MULIA”

  1. Terry Taufik Says:

    Salah satu batu mulia yang sudah mulai langka adalah salah satunya opal Kalimaya Banten,fenomena warnanya cukup mengagumkan,seperti yang dapat dilihat di youtube search kalimayaterry.

    [reply this comment]

Leave a Reply