Mar 18

Harian Investor Daily, 18/03/2009 19:01:53 WIB
JAKARTA, Investor Daily
MASSACHUSSETTS Institute of Technology (MIT) dengan sponsor dari Secretary of Energy, pada Januari 2007 merilis sebuah laporan bertitel  The Future of Geothermal Energy; Impact of Enhanced Geothermal System (EGS) on the United States in the 21st Century. Laporan yang disusun para pakar di bidang teknologi energi, ekonomi, dan lingkungan itu menyimpulkan bahwa dengan memanfaatkan EGS, energi panas bumi akan mampu menyumbang 10% kebutuhan listrik di Amerika Serikat pada 2050. Jumlah ini setara pembangkit listrik beban dasar dengan kapasitas 100 gigawatt electrical (GWe) atau 100 ribu megawatt electrical (MWe).

Laporan tersebut juga menyebutkan, dengan pengembangan teknologi lebih lanjut, jumlah energi yang secara ekonomis dapat dimanfaatkan bisa meningkat hingga 10 kali lipat dari yang ada saat ini. Dengan EGS, energi panas bumi dapat dieksploitasi pada lokasi yang saat ini dianggap tidak potensial. Hal ini dilakukan antara lain lewat penyempurnaan teknologi pengeboran, pengondisian reservoir, dan penyempurnaan teknologi konversi. Dengan demikian, menurut laporan tersebut, EGS bisa menjadi sumber energi pilihan yang berkelanjutan hingga berabad-abad.

Bagi Indonesia, laporan tim peneliti MIT tentu saja sangat penting mengingat besarnya potensi  energi panas bumi di negeri ini. Data Badan  Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilansir Desember 2008 menunjukkan, total potensi panas bumi di Tanah Air mencapai 27.670 MWe di 257 lokasi.

Dari angka itu, sebesar 80% atau 203 lokasi berada di lingkungan vulkanik dan 20% atau 54 lokasi di lingkungan nonvulkanik. Dengan teknologi EGS potensi energi panas bumi di Tanah Air sangat mungkin ditingkatkan menjadi lima kali lipat, atau sekitar 135 GWe. “Potensi ini sungguh dahsyat, karena ini adalah 40% dari sumber daya panas bumi dunia,” ujar Kepala Badan Geologi Departemen ESDM R Sukhyar kepada Investor Daily di Jakarta,  belum lama ini.

Menurut Sukhyar, energi panas bumi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sumber energi terbarukan yang lain, di antaranya hemat ruang dan pengaruh dampak visual yang minimal. Selain itu, energi panas bumi mampu berproduksi secara terus menerus selama 24 jam, sehingga tidak membutuhkan tempat penyimpanan energi. “Tingkat ketersediaan (availability) juga sangat tinggi, yaitu di atas 95%,” ujarnya.

Produksi Perlu Optimal

Namun, besarnya potensi panas bumi di Indonesia tidak sebanding dengan produksi. Di saat sumber energi fosil semakin susut pasokannya, optimalisasi produksi energi panas bumi ke depan layak diperhatikan. Maklumlah, sejak dikembangkan hampir tiga dasawarsa lalu, kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di Indonesia saat ini relatif masih kecil, sekitar 1.052 MWe. Angka ini 35% dari cadangan terbukti atau baru 3,8% dari total potensi energi panas bumi di Indonesia.

Dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar minyak, gas atau pun batubara,  pasokan listrik PLTP relatif masih marginal. Pasokan listrik panas bumi tersebut antara lain berasal dari sejumlah PLTP yang dibangun oleh PT Pertamina Geothermal Energy Indonesia, Chevron Geothermal  Indonesia Ltd, PT Geo Dipa, dan Magma Nusantara Ltd. Listrik dari  pembangkit swasta (independent power producer/IPP)  tersebut   dijual kepada PT PLN (persero).

Untuk meningkatkan produksi, tahun ini Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM dan PLN memasukkan energi panas bumi dalam proyek percepatan pembangunan listrik 10.000 MW tahap II. Dalam skenario tersebut, kapasitas terpasang pasokan energi panas bumi sebanyak 4.733 MWe akan masuk pada 2014.

Guna mendukung proyek besar tersebut, pemerintah  menetapkan 21 wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi. Enam WKP telah ditetapkan sejak 2007, kemudian 12 WKP dilansir pada 2008, dan tahun ini ditetapkan tiga WKP baru panas bumi. Ke 21 WKP itu tersebar di berbagai pelosok di Tanah Air. Total potensi panas bumi seluruh WKP tersebut mencapai 1.991 MWe.

“Potensi terbesar di antara 21 WKP itu berasal dari WKP Blawan-Ijen di perbatasan Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, dan Situbondo, Jawa Timur, yaitu sebanyak 270 MWe,” ujar Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi  Departemen ESDM Bambang Setiawan.

Menurut Lead Reservoir Engineer Chevron Geothermal Indonesia Ltd Riza G Pasikki, rata-rata potensi panas bumi Indonesia merupakan bentukan alam, sehingga tidak membutuhkan rekayasa artifisial tambahan untuk membangkitkan listrik. Hal ini berbeda dengan potensi panas bumi di luar negeri, yang hanya memiliki potensi panasnya saja, tetapi tidak memiliki uap.

Untuk memproduksi panas bumi dengan kondisi tersebut, lanjut Riza, perlu rekayasa tambahan untuk memompa uap, supaya bisa memanfaatkan panas bumi yang terkandung. Di luar negeri, investasi sebesar US$ 75 juta hanya bisa menghasilkan 2 MWe. “Di Indonesia, investasi sebesar itu bisa menghasilkan 20 MWe,” ujar Riza dalam lokakarya Sustainable Energy for Sustainable Growth of Indonesia di kampus Universitas Indonesia, Depok, Minggu (15/3).

Dirut PT Pertamina Geothermal Energy Abadi Poernomo mengakui, pengembangan energi panas bumi tak semudah membalik telapak tangan. Investasi untuk menggali energi panas bumi tidak sedikit karena tergolong berteknologi dan berisiko tinggi. Di sisi lain, harga jual per kWh yang ditetapkan PLN dinilai terlalu murah sehingga tak sebanding dengan biaya eksplorasi dan pembangunan PLTP. “PLN tak bisa bisa disalahkan karena tarif dasar listrik yang ditetapkan pemerintah masih di bawah harga komersial, yaitu tujuh sen dollar AS per kWh,” ujarnya kepada Investor Daily, tadi malam.

Sesuia Peraturan Menetri ESDM No 14 Tahun 2008, harga jual listrik panas bumi didasarkan pada besaran pembangkit dan persentase  terhadap biaya pokok penyediaan produksi (BPP). Untuk pembangkit dengan daya dibawah 10 – 55 MWe, menurut Direktur Pembinaan Pengusahaan Panas Bumi dan Pengelolaan Air Tanah Departemen ESDM Sugiharto Harsoprayitno, harga jual listrik maksimal adalah 85% dari BPP. Sedangkan untuk pembangkit dengan daya diatas 55 MWe, harga jual listrik maksimal 80% dari BPP.

Dengan hitungan ini, menurut Sugiharto, harga jual listrik panas bumi beradap pada kisaran US$ 7-9 sen per kWh. Angka ini sudah sesuai dengan harga keekonomian seperti yang diharapkan para investor pengembang panas bumi. Nantinya ketika proyek panas bumi sudah berjalan, harga itu pun bisa dievaluasi. “Investasi panas bumi hanya mahal di proses awal,” ujarnya. Itu artinya, peluang masih terbuka bagi investor untuk mengeksploitasi potensi perut bumi pertiwi ini. (dudi rahman)

2 Responses to “Menanti Optimalisasi Produksi Energi Panas Bumi”

  1. Happi Yuhaimi Says:

    Sudah saatnya kita menggali lebih serius potensi sumber panas bumi yang banyak tersedia ditiap daerah misalnya di NAD, dimana saat ini pembangkit listriknya masih banyak PLTD yang jadi andalan, bisa dibayangkan berapa biaya produksi per KWH, polusi yang diproduksi, dll.
    Untuk itu sosialisasi renewble energy pada pemda terkait lebih intent, agar yang namannya SAIDI & SAIFI dapat ditekan. Demikian pula dengan ketertarikan invertor dalam membangun infrastruktur industri hilir akan lebih tertarik dengan tersedianya energi

    [reply this comment]

  2. hanitijoso Says:

    indonesia banya fumarol dibukit-2 apakah pasti didapatkan tenaga panas bumi dan dapatkah pembangkit tenaga panas bumi dihasilkan secara optimal. Sepadankah pembiayaan pengeboran + pembangkit + infrastruktur dengan yang dihasilkan. berapa perbandingan rupiahnya ( 1 milyar rupiah : …. MW) sebelum operasional bisakah seluruh indonesia mencapai 100.000 MW

    [reply this comment]

Leave a Reply