Jun 13

Harian Koran Tempo, 13 Juni 2009
JAKARTA — Departemen Perdagangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 21 Tahun 2009 tentang Ketentuan Impor Besi Baja yang berlaku efektif 11 Juni 2009 hingga 31 Desember 2010. Aturan ini merupakan revisi dari Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2009 yang pelaksanaannya tertunda sejak 1 April 2009. Peraturan baru ini bertujuan mengendalikan impor baja agar masuk sesuai dengan kebutuhan. Peraturan itu menyebutkan, setiap importir besi dan baja wajib melakukan registrasi importir produsen dan importir terdaftar serta melakukan verifikasi teknis di pelabuhan muat.

Direktur Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan Partogi Pangaribuan mengatakan, berdasarkan aturan baru ini , laporan hasil verifikasi dari surveyor harus disampaikan oleh importir sebagai dokumen pelengkap dalam penyelesaian kepabeanan di bidang impor mulai 25 Juli 2009. “Laporan hasil verifikasi mulai berlaku 45 hari sejak ditetapkannya aturan baru ini,” ujar Partogi seperti dikutip dalam siaran persnya kemarin.

Aturan ini juga memuat jumlah besi baja impor yang wajib melakukan verifikasi atau penelusuran teknis impor, yakni 169 pos tarif. Sebelumnya, jumlahnya 203 pos tarif.

Dispensasi lolos verifikasi besi baja impor awalnya diberikan untuk produk dan turunan dari sektor otomotif, elektronik, galangan kapal, perminyakan, dan proyek bantuan yang bersifat hibah. Kemudian ditambah untuk jenis baja yang diimpor dengan jumlah kecil tapi digunakan oleh hampir seluruh industri, seperti mur dan baut.

Sedangkan produk tabung gas, kompor, dan peralatan pertambangan dikeluarkan dari daftar kewajiban verifikasi impor baja karena telah ditangani langsung oleh departemen teknis terkait, yakni Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan tata niaga impor besi baja dilakukan guna mencegah masuknya besi baja berkualitas rendah yang memberikan persaingan tidak adil kepada industri dalam negeri. “Dalam mengontrol masuknya besi banci (kualitas rendah tak sesuai dengan standar nasional Indonesia), diharapkan tidak mengganggu pasokan besi baja untuk bahan baku, sebetulnya kompleksitasnya di situ,” kata Mari kemarin. VENNIE MELYANI

Leave a Reply