Apr 11

Harian Kompas, 11 April 2008

BANDUNG, KOMPAS Untuk mengurangi efek polusi dari industri tekstil berbahan baku batu bara, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, serta asosiasi pengusaha tekstil Jabar setahun lalu sepakat membangun tempat pengolahan limbah batu bara. Namun, hingga kini izin operasional tempat pengolahan limbah senilai Rp 8 miliar itu belum diterbitkan Pemerintah Provinsi Jabar.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jabar Ade Sudradjat Usman, Kamis (10/4) di Bandung, mengatakan, sebagian besar industri tekstil di Jabar menggunakan bahan baku batu bara. Karena itu, diperlukan tempat pengolahan limbah industri batu bara khusus yang mampu mengolah limbah udara dan darat.

Pemerintah pusat melalui Kementrian Negara Lingkungan Hidup dan Departemen Perindustrian telah menyetujui. Kami berharap Pemprov Jabar segera menerbitkan izin tersebut,” tutur Ade.

Menurut dia, tempat pengendali pencemaran udara dan darat telah dibangun di Majalaya, Kabupaten Bandung, dan siap dioperasikan. Tempat pengolahan limbah industri berbahan batu bara itu menjadi lokasi pembuangan akhir bagi 60 pabrik tekstil di Jabar.

Pembangunan tempat pengendali pencemaran limbah batu bara menghabiskan dana sekitar Rp 8 miliar. Harga alatnya sekitar Rp 2 miliar, biaya tanah dan pembangunannya Rp 6 miliar.

Dengan sistem pengelolaan itu limbah udara dan darat dari pembakaran batu bara dapat dipadatkan. Hasil pemadatan limbah dapat diubah menjadi barang yang bernilai tambah, seperti batako, paving block, atau genteng.

Ade berharap pembangunan tempat pengelolaan limbah itu menjadi contoh bagi pengolahan limbah industri berbahan batu bara di sentra industri tekstil lain, seperti Semarang dan Solo. “Bahkan, demi efisiensi pengolahan, setiap kota atau kabupaten perlu memiliki zona khusus industri. Dengan demikian, pengelolaan dan pengawasan limbah darat dan udara terkontrol secara efekif,” ujarnya.

Makin ketat

Kepala Bidang Standardisasi Kompetensi Personel dan Lembaga Jasa Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup Noer Hadi   menyebutkan,   Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 /MENLH/3/1995 mengatur baku mutu emisi nasional, seperti industri besi dan baja, pulp dan kertas, serta industri pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara. ‘Industri tekstil yang menggunakan bahan baku batu bara termasuk juga di dalamnya,” ujarnya.

Menurut Noer, baku mutu emisi industri berbahan baku batu bara menentukan batas maksimum partikel 150 miligram/m3, sulfur dioksida (SO2) 750 miligram/m3, nitrogen oksida (NO2) 850 miligram/m3, dan opasitas 20 persen.

Hadirnya barang tekstil impor dari luar negeri dengan nilai penjualan sekitar Rp 2 triliun per tahun terbukti menurunkan peluang pasar produk tekstil domestik dari 45 persen menjadi 20 persen. “Nilai barang impor Rp 2 triliun per tahun, sedangkan nilai produksi dalam negeri hanya Rp 2,5 triliun per tahun. Persaingan ini sangat merugikan, khususnya bagi industri tekstil kecil,” papar Ade.

Karena itu, ia mengharapkan adanya regulasi khusus dari pemerintah untuk mengurangi komposisi penjualan barang impor sehingga industri domestik meningkat. (AOl)

5 Responses to “INDUSTRI BATU BARA, Pengolahan Limbah Terkendala Izin”

  1. Rahmat Says:

    Assalamu’alaikum.wr.wb

    Kenaikan harga minyak bumi dunia (mendekati 115 USD), akan meningkatkan pemakaian batubara sebagai bahan bakar oleh kalangan industri. Peningkatan pemakaian batubara akan berbanding linear dengan jumlah abu batubara (abu terbang dan abu dasar) yang dihasilkan.Sebagai gambaran,sebuah PLTU yang digunakan untuk operasional pabrik tekstil membutuhkan kira-kira 200 ton batubara dan akan menghasilkan abu batubara sekitar 8-10 persen (sekitar 20 ton) dari batubara. Jumlah abu batubara tersebut akan sangat signifikan memunculkan problematika sosial dan lingkungan hidup apabila tidak dikelola dengan baik. Apalagi abu batubara masih dikategorikan sebagai limbah B3 berdasarkan PP No. 85 tahun 1999.
    Teknologi penelitian dan pengembangan pemanfaatan abu batubara sebenarnya sudah banyak digunakan diberbagai negara seperti Amerika Serikat, India, Spanyol, Afrika Selatan, Australia dll. Dari beberapa penelitian uji toksisitas abu batubara yang dilakukan menunjukkan pemanfaatan abu batubara tidak menimbulkan efek yang berbahaya bagi makhluk hidup. Pemanfaatan abu batubara bisa sangat beragam mulai untuk bahan semen, batako, bahan tahan api sampai bahan pembenah tanah untuk lahan pertanian. Sebagai gambaran, bahwa batako yang dihasilkan dari campuran abu batubara memiliki kuat tekan 200-300 kg/cm2 sehingga bisa dimanfaatkan untuk dinding bangunan dan paving block. Hal ini tentu saja akan sangat membantu masyarakat yang membutuhkan perumahan di tengah kondisi masyarakat yang daya belinya masih rendah.
    Insiatif dari pihak industri pemakai bahan bakar batubara untuk mengelola abu batubara tentu saja perlu didukung pihak yang terkait, karena akan menimbulkan multiplier effect secara ekonomi dan ekologi. Secara ekonomi, abu batubara yang sebelumnya dianggap limbah oleh pihak industri sehingga perlu cost untuk penanganannya setelah dikelola akan menjadi income bagi industri. Secara ekologi, abu batubara yang sebelumnya dianggap sebagai ‘bahan pencemar’ setelah dikelola dengan baik akan berubah menjadi bahan yang bermanfaat bagi lingkungan. Monitoring pemanfaatan abu batubara dari stake holder terkait akan menjadi kontrol sekaligus jaminan dan menimbulkan rasa aman bagi masyarakat sekitar. Akan lebih optimal lagi apabila ada pelibatan secara aktif lembaga research dalam proses penelitian dan pengembangannya.

    Wassalamu’alaikum.wr.wb

    [reply this comment]

  2. moelyono Says:

    assalamu’alaikum wr wb

    saya sangat tertarik dengan artikel tentang pemanfaatan limbah batu bara (abu), hal ini dikarenakan disekitar daerah pemukiman kami banyak industri tekstil yang menggunakan bahan bakar batu bara. Saat ini, beberapa pabrik ada yang meletakkan/membuang limbah (abu) batu baranya di areal pekarangan yang sangat dekat dengan jalan pemukiman sehingga dapat mengganggu aktifitas warga dan wargapun pernah melakukan protes akan hal tersebut tetapi hampir belum ada perubahan kebijakan perusahaan untuk menangani limbah tersebut.

    Saya sebagai salah seorang warga yang terganggu, merasa tergugah untuk memanfaatkan limbah (abu) batubara tersebut untuk dipakai bahan bis beton dan paving yang akan dipakai untuk perbaikan gorong-gorong dan gang desa. Pertanyaannya, apakah limbah (abu) batubara tersebut bisa langsung dicampur dengan bahan lain sebagai pengganti pasir untuk membuat bis beton dan paving? secara teknis bagaimana cara pemanfaatan limbah (abu) batu bara tersebut? apakah penggunaan limbah (abu) batu bara dalam jangka panjang dapat merusak ekologi lingkungan? Mohon pencerahan dari bapak/ibu yang lebih tahu akan hal ini dengan menghubungi kangmoel@gmail.com. Terima kasih, wassalamu’alaikum wr. wb.

    [reply this comment]

  3. Rahmat Says:

    Pembuangan abu batubara oleh pabrik tekstil disembarang tempat merupakan tindakan yang menyalahi peraturan lingkungan hidup. Karena apabila tidak dikelola dengan baik, maka abu batubara tersebut bisa mencemari lingkungan dan bisa berakibat negatif pada kesehatan manusia.Status abu batubara yang merupakan limbah B3 menyebabkan pihak penghasil abu batubara berkewajiban untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan dengan prosedur tertentu dan mengurus perizinan di Kementrian Lingkungan Hidup.
    Pemanfaatan abu batubara bidang sipil (misal : bahan campuran semen, batako, beton) sudah sejak lama dikembangkan. Bahkan, dilaporkan penggunaan beton dengan kandungan abu batubara tinggi pada sejumlah proyek infrastruktur di Australia dilaporkan menunjukkan hasil memuaskan. Selain lebih ramah lingkungan, mengurangi jumlah energi yang diperlukan karena berkurangnya pemakaian semen, lebih awet dan lebih murah, juga menunjukkan perilaku mekanik memuaskan.Sehingga diperkirakan, beton dari abu batubara merupakan bahan masa depan.
    Secara teknik, pembuatan bata press dari abu batubara cukup sederhana. Abu batubara dalam keadaan agak basah dicampur semen dengan komposisi kira-kira 9 :1 kemudian diaduk sampai rata. Kemudian dicetak sesuai ukuran yang diinginkan.
    Dari uji karakteristik yang dilakukan (TCLP, LC50,LD50) terhadap abu batubara yang pernah dilakukan (tekMIRA, ITB) menunjukkan bahwa abu batubara cukup aman untuk dimanfaatkan.

    [reply this comment]

  4. pramono Says:

    Saya tertarik utk pemanfaatn limbah batu bara dr tanjung jati b jepara utk pemberdayaan pemuda pengangguran ds setempat. apa yg harus kami lakukan untuk gagasan ini? brapa modal investasi yg dibutuhkn trutama peralatan.

    [reply this comment]

  5. tia naomi Says:

    saya minta dikirim data lengkap tentang batubara, tentang komposisi limbah batubara dan bahayanya untuk kesehatan, dan bagaimana cara penanggulangannya. apakah limbah itu bisa dimanfaatkan.

    [reply this comment]

Leave a Reply