Jan 31

3671983p1.jpg

Dari Kolong hingga Suvenir
Minggu, 31 Januari 2010 | 03:51 WIB

Dua lelaki tanpa baju menggotong pipa paralon yang disembunyikan dari gubuk di samping kolong (lubang galian tambang). Badan kekar dan kulit coklat kehitaman yang terbakar matahari menandakan aktivitas sehari-hari mereka. Aktivitas tambang inkonvensional (TI) dan tambang rakyat (TR) mulai terdengar di Desa Sirna Jaya, Kecamatan Sungai Liat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Gemuruhnya makin terdengar ketika ekskavator dan pompa penyemprot air mulai bekerja di tempat pendulangan untuk memisahkan tanah dan menyisakan batu dan pasir timah.

Di tempat lain di Gedung PT Timah Tbk, Pangkal Pinang, enam perajin sibuk menggarap berbagai bentuk suvenir yang dibuat dari pewter. Ini adalah bahan olahan dari timah murni (97 persen), dicampur sedikit tembaga (2 persen) dan antimon (1 persen). Dengan alat sederhana, mulai dari gunting, kikir, solder, las, hingga mesin bubut, mereka memoles timah menjadi suvenir yang menarik.

Bagaimana sejarah timah itu berawal di Pulau Bangka yang telah dikenal pelaut-pelaut China sebagai pulau bernama Pu-lei sejak abad ke-3 Masehi. Berita China abad ke-7 menyebutkan bahwa komoditas perdagangan dari Shih-li-fo-sih (Sriwijaya) antara lain adalah timah. Pada abad-abad itu Bangka-Belitung termasuk wilayah kekuasaan Sriwijaya. Baru pada pertengahan abad ke-18 keterlibatan orang-orang Tionghoa di Bangka, yang umumnya datang dari wilayah Hakka, mulai berperan, baik sebagai tenaga kasar, agen pembeli, maupun pengusaha pertambangan itu sendiri. Keberadaan penambang asal daratan Tiongkok di Pulau Bangka seluas 11.704 kilometer persegi terus bertambah. Mary F Somers Heidhues dalam Bangka Tin and Mentok Pepper memaparkan, ribuan pekerja asal China didatangkan oleh Belanda secara massal dan bergelombang sebagai kuli kontrak di Bangka pada tahun 1710. Belanda mengambil alih kuasa penambangan timah di Pulau Bangka dari Kesultanan Palembang pada abad ke-19 pasca-kejatuhan Sultan Mahmud Badaruddin II. Belanda kemudian mendirikan perusahaan pertambangan timah, Banka Tin Winning alias BTW. Inilah yang kemudian menjadi awal keberadaan PT Timah di Pulau Bangka-Belitung hingga kini.

Teks dan Foto-foto: Agus Susanto

Leave a Reply