Jul 14

Harian Pikiran Rakyat Rabu, 14 Juli 2010
SUMBER, (PR).-
Sejumlah lokasi penampungan batu bara di Kecamatan Pangenan, Kab. Cirebon ditutup secara paksa oleh puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Solidaritas Cirebon (GPSC).

“Kami menuntut kejelasan kompensasi atas dampak lingkungan dan kesehatan yang ditimbulkan akibat keberadaan tempat penampungan batu bara tersebut,” kata Heri Riyadi, koordinator aksi, Selasa (13/7).

Meskipun tidak menyebutkan bentuk kompensasi yang diharapkan warga, Heri menjelaskan, aktivitas di sekitar tempat penampungan batu bara itu telah menyebabkan masyarakat setempat merasa tidak nyaman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Dampak buruk yang ditimbulkan oleh kegiatan penampungan batu bara, sangat mengganggu lingkungan selama ini. Beberapa bentuk polusi itu antara lain debu, asap, bau yang menyengat dan bisingnya kendaraan pengangkut batu bara,” kata Heri.

Ia mengatakan, lokasi penampungan batu bara di sepanjang jalur Pantai Utara (pantura) Kecamatan Pangenan sudah berlangsung sekitar lima tahun yang lalu. Namun demikian, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi penampungan batu bara itu hingga kini tidak pernah mendapatkan kompensasi.

Terkait adanya kondisi tersebut, menurut Heri, Pemkab Cirebon seharusnya turut bertanggung jawab dan mampu menciptakan kenyamanan serta situasi daerah yang kondusif. “Bukan hanya memberi perlakuan istimewa kepada para investor yang ada,” katanya.

Tuntutan yang disampaikan warga di antaranya, mendesak agar pemerintah daerah (Pemkab Cirebon) segera memanggil serta melakukan audit terhadap kompensasi tempat penampungan batu bara di Kab. Cirebon.

Selain itu juga, mereka meminta kepada Asosiasi Pengusaha Batu Bara di Cirebon, untuk segera memberikan kompensasi.

“Akan tetapi, jika tuntutan dari warga itu tidak juga dipenuhi, selanjutnya kami akan mendesak agar Pemkab menutup lokasi penampungan yang ada di Pangenan,” tuturnya menegaskan. (A-146)***

Leave a Reply