Sep 24

HArian Pikiran Rakyat Jumat, 24 September 2010
Merusak Lingkungan dan Infrastruktur

BELASAN mahasiswa Cirebon yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa `45 (Fordisma`45) berdemonstrasi di depan Kantor Bupati Cirebon, Kamis (23/9). Mereka menuntut agar galian C di Sinarrancang ditutup total dan segera membentuk pansus galian C.* SHANTY/”KC”SUMBER, (PR).-
Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa `45 (Fordisma `45) mendatangi Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon dan Ge-dung DPRD di Sumber, Kamis (23/9) siang. Bahkan, beberapa di antaranya sempat mela-kukan aksi lompat pagar besi.

Dalam aksinya tersebut, me-reka antara lain menuntut agar galian C (pasir) di beberapa kawasan agar ditutup total. Kemudian, meminta pemkab untuk segera membentuk pansus galian C, serta mengusut du-gaan korupsi pada proses per-izinan dan pembayaran pajak galian C liar.

“Selain itu, kami menuntut agar Pemkab Cirebon harus bertanggung jawab secara hukum atas pelanggaran UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,” kata Koodinator Lapangan, Mohammad Ya-kub.

Ia menjelaskan, aktivitas ga-lian C liar yang ada di Kab. Cirebon selalu bermasalah. Selain itu, terkesan ada unsur kesengajaan dan pembiaran demi kepentingan tertentu dengan cara memberikan upeti bisa dilegalkan.

Seperti di Desa Waled Asem, Kec. Waled, menurut Yakub, jelas telah melanggar Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Dengan alasan apa pun Kec. Waled bukan sebagai lokasi galian C. Sebagaimana yang termasuk dalam Pasal 29 Perda RTRW,” tuturnya.

Meskipun pada dasarnya galian C di Waled sudah di-proses secara hukum, tutur Yakub, tetapi hingga sekarang belum selesai dan prosesnya terus berkepanjangan. Belum lagi masalah pajak galian C liar yang masih tidak jelas.

“Butuh komitmen kita bersama, dalam hal ini pihak instansi terkait seperti pemkab, DPRD, kejaksaan dan kepolisian harus pro aktif secara terbuka untuk mengusut tuntas dugaan korupsi dan penjarahan oleh pelaku kejahatan lingkungan,” katanya.

Ia mengakui, selain itu ada lagi galian C di Desa Sinarrancang, Kec. Mundu yang baru-baru ini beroperasi juga kemungkinan akan terjadi kejahatan lingkungan yang luar biasa.

“Kondisi itu perlu diantisipasi sedini mungkin, karena dampak buruk dari aktivitas galian C liar selain akan me-rusak ling-kungan, juga infrastruktur jalan turut mengalami kerusakan,” ujarnya.

Dilematis

Menanggapi persoalan itu, Bupati Cirebon, H. Dedi Supardi mengakui bahwa saat ini tidak ada galian C di Kabupa-ten Cirebon yang dilegalkan. Akan tetapi, terkait aktivitas di Desa Sinarrancang, hal itu bu-kan galian C, tetapi hanya pe-ngupasan lahan.

“Di Sinarrancang bukan ga-lian C, tetapi hanya pengupas-an sesuai permintaan masya-rakat untuk membuka lahan baru,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kab. Cirebon, H. Tasiya Soemadi Al Gotas mengatakan, penanganan galian C adalah persoalan yang dilematis karena terkait pula dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau secara frontal aktivitas galian C itu dilarang semua, nanti dari mana masyarakat yang akan membangun untuk mendapatkan pasirnya,” tuturnya. (A-146)***

Merusak Lingkungan dan Infrastruktur

BELASAN mahasiswa Cirebon yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa `45 (Fordisma`45) berdemonstrasi di depan Kantor Bupati Cirebon, Kamis (23/9). Mereka menuntut agar galian C di Sinarrancang ditutup total dan segera membentuk pansus galian C.* SHANTY/”KC”SUMBER, (PR).-
Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa `45 (Fordisma `45) mendatangi Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon dan Ge-dung DPRD di Sumber, Kamis (23/9) siang. Bahkan, beberapa di antaranya sempat mela-kukan aksi lompat pagar besi.

Dalam aksinya tersebut, me-reka antara lain menuntut agar galian C (pasir) di beberapa kawasan agar ditutup total. Kemudian, meminta pemkab untuk segera membentuk pansus galian C, serta mengusut du-gaan korupsi pada proses per-izinan dan pembayaran pajak galian C liar.

“Selain itu, kami menuntut agar Pemkab Cirebon harus bertanggung jawab secara hukum atas pelanggaran UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,” kata Koodinator Lapangan, Mohammad Ya-kub.

Ia menjelaskan, aktivitas ga-lian C liar yang ada di Kab. Cirebon selalu bermasalah. Selain itu, terkesan ada unsur kesengajaan dan pembiaran demi kepentingan tertentu dengan cara memberikan upeti bisa dilegalkan.

Seperti di Desa Waled Asem, Kec. Waled, menurut Yakub, jelas telah melanggar Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Dengan alasan apa pun Kec. Waled bukan sebagai lokasi galian C. Sebagaimana yang termasuk dalam Pasal 29 Perda RTRW,” tuturnya.

Meskipun pada dasarnya galian C di Waled sudah di-proses secara hukum, tutur Yakub, tetapi hingga sekarang belum selesai dan prosesnya terus berkepanjangan. Belum lagi masalah pajak galian C liar yang masih tidak jelas.

“Butuh komitmen kita bersama, dalam hal ini pihak instansi terkait seperti pemkab, DPRD, kejaksaan dan kepolisian harus pro aktif secara terbuka untuk mengusut tuntas dugaan korupsi dan penjarahan oleh pelaku kejahatan lingkungan,” katanya.

Ia mengakui, selain itu ada lagi galian C di Desa Sinarrancang, Kec. Mundu yang baru-baru ini beroperasi juga kemungkinan akan terjadi kejahatan lingkungan yang luar biasa.

“Kondisi itu perlu diantisipasi sedini mungkin, karena dampak buruk dari aktivitas galian C liar selain akan me-rusak ling-kungan, juga infrastruktur jalan turut mengalami kerusakan,” ujarnya.

Dilematis

Menanggapi persoalan itu, Bupati Cirebon, H. Dedi Supardi mengakui bahwa saat ini tidak ada galian C di Kabupa-ten Cirebon yang dilegalkan. Akan tetapi, terkait aktivitas di Desa Sinarrancang, hal itu bu-kan galian C, tetapi hanya pe-ngupasan lahan.

“Di Sinarrancang bukan ga-lian C, tetapi hanya pengupas-an sesuai permintaan masya-rakat untuk membuka lahan baru,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kab. Cirebon, H. Tasiya Soemadi Al Gotas mengatakan, penanganan galian C adalah persoalan yang dilematis karena terkait pula dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau secara frontal aktivitas galian C itu dilarang semua, nanti dari mana masyarakat yang akan membangun untuk mendapatkan pasirnya,” tuturnya. (A-146)***

Leave a Reply