May 08

Prakenaikan Harga BBM, Harga Kebutuhan Pokok Melonjak

48p.jpg

Harian Kompas, Kamis, 8 Mei 2008 | 01:42 WIB
Jakarta, Kompas – Kehidupan sekitar 130.000 pedagang kaki lima atau PKL di Jakarta bakal makin sulit pascakenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM. Para PKL menanggung beban kenaikan harga berbagai barang seiring naiknya harga BBM. Mereka juga masih dihantui penggusuran berkedok penertiban.”Selain terdesak karena kenaikan harga BBM, PKL dibayangi pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum yang menegaskan tidak boleh berdagang di emperan jalan. Besar kemungkinan, banyak PKL terpaksa gulung tikar karena tekanan ini. Tidak ada perlindungan bagi kami, padahal kami ini penggerak ekonomi Jakarta,” kata Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) DKI Jakarta Hoiza Siregar, Rabu (7/5).

APKLI Jakarta memiliki 26.920 anggota atau kurang dari seperlima jumlah total PKL di Jakarta. Menurut Hoiza, rata-rata PKL hanya berpendapatan Rp 30.000-Rp 50.000 per hari. Dengan pendapatan tersebut, mereka harus amat irit untuk menghidupi keluarga mereka. Di sisi lain, PKL adalah ujung tombak pemasaran berbagai macam produk dari perusahaan-perusahaan raksasa. Kalau PKL bangkrut, penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) akan bertambah banyak dan para produsen juga merugi.

Harga sembako naik

Selain para PKL, para pedagang di pasar-pasar tradisional mengkhawatirkan kenaikan harga bahan pokok yang dipicu isu kenaikan BBM. Dampak lanjutan meroketnya harga bahan pokok justru akan membuat volume penjualan terus merosot.

Wiwiek (20), pedagang sembako di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengatakan, harga beras IR 64 berkisar Rp 4.800 per liter. Dua pekan lalu harganya sekitar Rp 4.500 per liter. Saat ini, dalam sehari menjual habis satu karung isi 50 kilogram beras saja sulit. Padahal, setahun lalu Wiwiek masih bisa menjual habis tiga karung beras dalam sehari.

Samardi (40), pedagang sembako di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, mengatakan, selama satu dekade Orde Reformasi, omzet penjualannya merosot lebih dari 50 persen. Pemerintah dituding tidak bisa mengendalikan harga dan tidak ada prinsip keadilan antara pengusaha kecil dan besar. ”Sejauh ini pasokan beras masih lancar. Tapi, yang saya khawatirkan kalau BBM naik, nanti ada yang suka nimbun-nimbun. Bikin situasi tambah kacau,” kata Wiwiek.

Selain beras, harga telur dan susu bayi rata-rata juga naik Rp 2.000 menjadi Rp 13.000 per kilogram untuk telur dan Rp 23.000 per kemasan 400 gram untuk susu.

Nelayan berhenti melaut

Satu pekan terakhir, para nelayan di pantai utara Serang, Banten, berhenti melaut karena kesulitan memperoleh minyak tanah. Para nelayan terpaksa berutang, menggadaikan barang, atau menjadi kuli serabutan karena terdesak kebutuhan hidup sehari-hari. Berdasarkan pantauan, Rabu (7/5), ratusan perahu nelayan tertambat di muara Karangantu, dari Desa Banten hingga Desa Margaluyu, Kecamatan Margaluyu, Kota Serang, Banten. Hanya terlihat satu-dua perahu kecil yang berangkat melaut.

Ratusan nelayan di daerah itu memilih libur melaut sejak minyak tanah sulit didapat. Jika ada, harganya lebih tinggi, mencapai Rp 3.500 per liter.

Salah satu nelayan yang libur melaut adalah Andi Galigo. Ayah lima anak itu sudah lebih dari satu minggu tak melaut. ”Terakhir ke laut hari Selasa minggu kemarin. Sekarang belum bisa melaut karena minyak tanahnya enggak ada,” tuturnya.

Hampir semua nelayan di Karangantu mulai berganti bahan bakar dari solar menjadi minyak tanah sejak harga solar naik pada tahun 2006. Apalagi, saat ini harga solar sudah mencapai Rp 5.500 per liter. Selain minyak tanah langka, hasil yang mereka dapat dari melaut juga sedikit. Untuk satu kali melaut selama empat hari, Galigo membutuhkan 440 liter minyak tanah seharga Rp 1,54 juta. Sementara itu, hasil yang didapat paling banyak Rp 7 juta, itu pun masih harus dibagi-bagi lagi.

Penghasilan setelah dikurangi bahan bakar dan bekal adalah Rp 5,46 juta. Separuh penghasilan, Rp 2,73 juta, disetorkan kepada pemilik kapal dan separuhnya dibagi 6-7 nelayan yang turut melaut. ”Itu hitungan paling bagus. Rata-rata dapatnya Rp 200.000 per orang. Kalau sekarang memaksa melaut, enggak akan sampai dapat uang segitu,” ujarnya.

Bahkan, menurut Nasir, nelayan lainnya, penghasilan yang didapat tidak sebanding dengan biaya melaut. ”Buat minyak tanah saja sehari habis 40 liter, Rp 140.000. Sekarang ikannya lagi kurang, paling cuma dapat seperempat dari biasanya. Kalau dipaksa melaut, tekor terus,” ujarnya.
Keadaan seperti ini membuat nasib nelayan terpuruk. (NEL/NTA/SF)

Leave a Reply