Aug 22

Eksploitasi di Batam Mengkhawatirkan

Harian Kompas, Jumat, 22 Agustus 2008 | 00:47 WIB
Jakarta, Kompas – Sejumlah lembaga swadaya masyarakat meminta penghentian eksploitasi sumber daya alam di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Selain merusak lingkungan, eksploitasi itu hanya menguntungkan elite tertentu, kelompok, dan penduduk Singapura.

Sementara itu, mayoritas penduduk di tiga kepulauan tersebut tak menikmati hasil setimpal. ”Kemiskinan Batam tetap tinggi,” kata Program Officer Institute for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng dalam paparannya mengenai Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) di Jakarta, Kamis (21/8).

Bertahun-tahun, pesisir, daratan, dan perbukitan di Kepulauan Riau dieksploitasi untuk diambil bahan tambangnya, seperti bauksit, granit, pasir darat, dan pasir laut. Pelarangan yang digagas pemerintah tak mempan.

Pulau Sebaik dilaporkan terancam tenggelam karena penambangan pasir darat. Pulau Angkut dan Koyang digerus untuk bauksit, sedangkan Gunung Jantan dan Betina berubah jadi cekungan raksasa berkedalaman hampir 100 meter, juga karena bauksit.

”Contoh paling nyata adalah tenggelamnya Pulau Nipah karena penambangan pasir laut,” kata Edy Burmasyah dari IGJ. Penambangan granit di Pulau Sebaik pun terus berlangsung.

Dalam sikap resminya kemarin, sejumlah LSM meminta pemerintah agar menghentikan semua kegiatan pertambangan.

”Pertambangan hanya salah satu problem di Kepulauan Riau,” kata Kepala Departemen Advokasi dan Jaringan Eksekutif Nasional Walhi Teguh Surya. (GSA)

Leave a Reply