|
TEKNOLOGI LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Penelitian Penurunan Kadar Logam
dari Limbah Pertambangan Bijih Emas dan Batubara Secara Biosorpsi

Pendahuluan
Limbah cair pengolahan bijih emas dan pencucian batubara
umumnya mengandung berbagai jenis logam berat antara lain
besi (Fe), tembaga (Mn), timbal (Pb) dan seng (Zn). Logam-logam
tersebut dapat berasal dari kegiatan pengupasan tanah penutup
dan proses pengolahannya.
Pencemaran badan perairan oleh logam dapat diatasi dengan
mengolah limbah sebelum dialirkan ke badan perairan. Cara
pengolahan yang umum dilakukan adalah dengan cara fisik dan
kimia atau gabungan keduanya. Namun kedua cara tersebut dianggap
kurang memadai karena menghasilkan limbah sekunder yang membahayakan
lingkungan dengan masa yang lebih panjang. Hal ini disebabkan
ketoksikan lumpur dapat lepas kembali oleh asam (Hancook,
1996).
Masalah lingkungan akibat pembuangan lumpur yang mengandung
ion logam dapat diatasi dengan proses bioremoval yang ramah
lingkungan. Proses biosorpsi juga dikenal sebagai passive
uptake merupakan proses pengikatan ion logam pada permukaan
dinding sel biomassa melalui interaksi fisikokimia.
Ion logam berat mengikat dinding sel dengan dua cara yang
berbeda; pertama, pertukaran ion monovalen dan divalen seperti
Na, Mg dan Ca pada dinding sel digantikan oleh ion logam berat,
kedua adalah formasi kompleks antara ion-ion logam dengan
gugus-gugus fungsional (hydroxy, phosphate, dan hydroxy-carboxyl)
yang berada pada dinding sel.
Proses biosorpsi ini bersifat bolak balik dan cepat. Proses
bolak balik ikatan ion logam berat di permukaan sel ini dapat
terjadi pada sel mati dan sel hidup pada suatu biomass. Proses
biosorpsi dapat lebih efektif dengan kehadiran tertentu pH
dan kehadiran ion-ion lainnya di media di mana logam berat
dapat terendapkan sebagai garam yang tidak terlarut.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan :
- Biomassa R. arrhizus dan A.niger mampu menyerap ion logam
besi, mangan tembaga, timbal dan seng yang berada dalam
limbah proses pengolahan bijih emas dan pencucian batubara.
- Kemampuan R. arrhizus menyerap berbagai logam tersebut
lebih tinggi dari pada A.niger.
- Dalam waktu 15 menit kemampuan biomassa R. arrhizus menyerap
besi (Fe) sebesar 95,1%, mangan (Mn) 92%, tembaga (Cu) 100%,
timbal (Pb) 100%, dan seng (Zn) 100%.
- Dalam waktu 15 menit kemampuan Biomassa A.niger menyerap
besi (Fe) sebesar 22,46%, mangan (Mn) 20,20%, tembaga (Cu)
100%, timbal (Pb) 28,28%, dan seng (Zn) 35%.
- Kemampuan penyerapan logam oleh biomassa ditentukan oleh
sifat kimia dinding sel. Urutan selektifitas berdasarkan
serapan maksimumnya dalam contoh adalah: besi > mangan
>tembaga > timbal > seng.
Tentu saja, pada akhirnya pertimbangan ekonomis sangat penting
dalam mengevaluasi seluruh proses. Produksi biomassa suatu
mikroorganisme, khususnya mikroalga diakui lebih mahal biayanya.
Untuk menghasilkan satu gram biomassa R. arrhizus diperlukan
biaya sebesar Rp 21.616,50 (dua puluh satu ribu enam ratus
enam puluh enam lima rupiah). Namun demikian, produksi dalam
jumlah besar dapat menekan biaya produksi.
Ketika recovery logam berat dilakukan dengan pertimbangan
ekonomis, maka perlu juga dipertimbangkan pendekatan secara
teknis yang menyangkut mekanisme akumulasi logam berat dengan
menggunakan mikroorganisme. Sangat memungkinkan menggunakan
metode non-destractive yang membutuhkan regenerasi biomass
untuk penggunaan berikutnya.
|