NEWS FLASH
Banner
Banner
Banner
Banner
THE 3RD WORKSHOP ON MINE HAZARD AND DEVELOPING THE MANAGEMENT SYSTEM FOR MINE RECLAMATION IN INDONESIA
BERITA INTERNAL

 

Jakarta, 7 Desember 2017. Pada seminar Ke-3 mengenai pengelolaan bahaya tambang untuk sumber pembangunan di Indonesia yang berkelanjutan, Mr. Sun Baek Bang, menyampaikan pemaparan mengenai dampak kerusakan lingkungan pertambangan batubara .

“Usaha tambang batubara sangat berpotensi besar menghasilkan air asam tambang dan apabila dibiarkan akan menjadi bencana lingkungan yang berkepanjangan. Program kerja sama Indonesia dan Korea Selatan di bidang pertambangan, melalui proyek reklamasi dan pasca tambang serta teknologi pengendalian asam tambang sudah akan berakhir pada akhir tahun 2017 nanti. Selama 3 tahun program kerja sama berlangsung, telah menghasilkan proyek percontohan mengatasi dampak air asam tambang di usaha pertambangan batubara di Balikpapan, Kalimantan Timur,” Mr. Sun Baek Bang.

Program kerja sama yang dilakukan antara Indonesia dan Korea Selatan telah berjalan sejak 3 tahun lalu dan banyak menghasilkan teknologi yang dapat mengatasi masalah kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat kegiatan usaha tambang batubara. Pemerintah Korea Selatan, dalam hal ini perusahaan MIRECO, sangat berpengalaman dan memiliki teknologi mengatasi dampak kerusakan lingkungan dalam usaha pertambangan.

Di negaranya sendiri, Korea Selatan berhasil dan sukses menjadikan bekas areal tambang menjadi kawasan wisata yang bersih lingkungan. Dengan keberhasilan itulah, diharapkan semua teknologi yang dimiliki Korea dapat ditransfer kepada Indonesia yang merupakan salah satu negara yang memiliki usaha tambang batubara terbesar di dunia.

Dalam program Indonesia-Korea Selatan itu, pihak MIRECO bermitra dengan dua institusi pemerintah, yakni Direktorat Jenderal Minerba (Ditjen Minerba) dan Puslitbang teKMIRA Bandung. Vice President MIRECO, Mr. Kwon Sun Rock, berharap seminar penanganan yang berkelanjutan dampak air asam tambang di Jakarta ini akan menjadi dasar untuk membangun pengguna sumber daya alam untuk pertumbuhan lingkungan hijau dan berkelanjutan. Sementara itu, Korea International Cooperation Agency (KOICA) adalah lembaga pemerintah Korea, telah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk mendanai proyek kerja sama selama 3 tahun antara Indonesia dan Korea Selatan.

Menurut Perwakilan KOICA untuk Indonesia, Oh Gi Youn, mengatakan pihaknya merasa puas dengan pola kerja sama yang sudah terjalin selama ini. Sementara itu, Ditjen Minerba juga berharap program dapat terus berjalan dan pihaknya bersama Puslitbang tekMIRA sedang mengkaji program yang tepat untuk dibuatkan proposal baru, untuk perjanjian kerja sama yang baru.

“Mereka menawarkan lagi ke kita, setelah ini kerja sama apa yang mau di-apply ke mereka, jadi kita juga sedang berdiskusi dengan tekMIRA apa yang mau kita proposed ke mereka untuk kerja sama, “ujar Lidya Hardiani, Kasubdit Keselamatan Pertambangan Minerba-Ditjen Minerba.

Dengan berakhirnya program kerja sama itu, maka menurut rencana bangunan laboratorium di Bandung dan proyek percontohan di kawasan tambang batubara Balikpapan, Kalimantan Timur, akan dihibahkan kepada Indonesia.

Share

 
Banner
Banner