KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO, YOGYAKARTA
Bambang Yunianto, Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara,
Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Bandung – 40211
Telp. 022 – 6030483 Ext. 227 e-mail : yunianto@tekmira.esdm.go.id
SARI
Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Jogja Magasa Mining (PT. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo, DIY, ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut, dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. JMM, termasuk PT. Krakatau Steel (PT. KS) dan Indo Mines Ltd. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo, di wilayah Kecamatan Temon, Wates, Panjatan dan Galur. Continue reading »
PERCOBAAN PEMBUATAN KERAMIK JASPER DARI BAHAN BAKU UTAMA BARIT PANCATENGAH, TASIKMALAYA
Subari dan Sri Hidayati Widardo
Balai Besar Keramik
Jalan Jenderal Achmad Yani No. 392, Bandung 40272
Telp. (022) 7206221; fax.(022)7205322
e-mail:bbk_bppi@melsa.net
SARI
Industri keramik hingga sekarang belum ada yang memproduksi keramik dari badan keramik jasper, sehingga perlu diteliti dengan menggunakan bahan baku utama barit. Tujuan penelitian adalah mengetahui layak tidaknya barit Pancatengah untuk pembuatan keramik jasper. Continue reading »
IMPORTANCE OF ORGANIC PETROLOGY TO TYPE AND RANK OF MIOCENE ASEM-ASEM COAL-SOUTH KALIMANTAN
Binarko Santoso and Bukin Daulay
R&D Centre for Mineral and Coal Technology
Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, ph. 022-6030483, fax. 022-6003373,
e-mail: binarkos@tekmira.esdm.go.id; bukin@tekmira.esdm.go.id
ABSTRACT
The Asem-Asem Basin has cratonic and back-arc settings containing coal deposits that were formed in Tertiary sequences. The coals were deposited in fluvial to deltaic environments. Continue reading »
KETERDAPATAN ENDAPAN PLASER TIMAH DALAM SISTEM LINGKUNGAN PENGENDAPAN KUARTER DI SUNGAI SELAN-CELUAK, KABUPATEN BANGKA TENGAH
Suyatman Hidayat, Indyo Pratomo dan Herman Moechtar
Pusat Survei Geologi
Jalan Diponegoro 57, Bandung 40122
SARI
Studi yang dilakukan mencakup analisis sedimentologis dan stratigrafis terhadap sebelas hasil pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah utara-selatan yang hampir sejajar dengan Sungai Selan, tidak jauh dari kampung Sungaiselan. Kedalaman pemboran berkisar antara 4,80 -20,40 m. Continue reading »
PENELITIAN PENDAHULUAN PEMBUATAN PUPUK MAJEMUK DARI BATUAN FOSFAT DAN DOLOMIT ALAM
Trisna Soenara, Ngurah Ardha dan Hadi Purnomo
Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara
Jalan Jenderal Sudirman 623, Bandung 40211 Telp. 022-6030483, Fax. 022-6003373
e-mail: trisna@tekmira.esdm.go.id, ngurah@tekmira.esdm.go.id, hadip@tekmira.esdm.go.id
SARI
Pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung lebih dari satu jenis unsur hara. Pada penelitian ini pupuk majemuk dibuat dari mineral fosfat dan dolomit yang direaksikan dengan H2SO4 sehingga diperoleh pupuk yang mengandung P, Mg, Ca, dan S. Hasil ekstraksi tersebut kemudian ditambah dengan bahan yang mengandung unsur N dan K dari Urea dan KCl serta unsur mikro dalam jumlah yang sangat kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur hara mikro Fe, Cu, Mn, dan Zn yang dihasilkan masih terlalu tinggi, yaitu 250 ppm dan produk pupuk majemuknya belum memenuhi syarat sebagai pupuk majemuk berimbang karena kadar N dan K masih <10 %. Namun hasil tersebut telah menunjukkan adanya indikasi bahwa pupuk majemuk dapat dibuat dari batuan fosfat dan dolomit alam. Continue reading »
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN BRIKET BATUBARA DIBANDINGKAN DENGAN MINYAK TANAH PADA INDUSTRI PETERNAKAN AYAM RAS PEDAGING DI PULAU JAWA
Triswan Suseno
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara
Jalan Jenderal Sudirman 623 Bandung 40211, Telp. (022) 6030483, Fax. (022) 6003373
e-mail: triswan@tekmira.esdm.go.id
S A R I
Ayam ras pedaging atau disebut juga ayam broiler adalah salah satu ayam yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, sehingga banyak yang menjadi pengusaha ayam potong. Selama proses pertumbuhan, anak ayam ini memerlukan penghangatan tubuh dengan bantuan alat penghangat yang berbahan bakar minyak tanah. Namun dengan semakin tingginya harga minyak tanah menjadikan sebagian dari para peternak ayam mulai beralih ke briket batubara sebagai penggantinya. Hasil analisis efisiensi menunjukkan bahwa untuk menghangatkan 1.000 ekor anak ayam ras pedaging dengan bahan bakar briket batubara lebih hemat Rp. 312.500,00 atau lebih efisien 44,44% dibandingkan dengan menggunakan minyak tanah. Keuntungan lainnya untuk setiap 1000 ekor anak ayam pemerintah dapat mengurangi persediaan minyak tanah sebanyak 225 liter atau mengurangi subsidi sebesar Rp. 720.000,00. Continue reading »


Komentar Terakhir