LUSI – BAHAN BAKU BATERAI MASA DEPAN

LUSI – BAHAN BAKU BATERAI MASA DEPAN

Pemanfaatan energi dunia saat ini masih didominasi oleh pembakaran bahan bakar fosil yang memiliki dampak serius pada pelepasan karbon yang tidak terkendali. Pelepasan karbon tersebut menciptakan dimensi pembentukan gas rumah kaca yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Sumber utama pencemaran udara tersebut adalah pembakaran bahan bakar fosil dari kendaraan atau transportasi bergerak, seperti mobil dan sepeda motor. Kondisi tersebut menciptakan pemikiran untuk mendapatkan sumber energi utama yang lebih ramah lingkungan, diantaranya dengan upaya penghilangan, atau setidaknya reduksi karbon yang dihasilkan. Semua negara di dunia, baik secara sadar atau dipaksakan melalui skema perdagangan internasional, akhirnya mencoba untuk mencari sumber energi tersebut melalui pencarian dan pengembangan energi baru dan terbarukan.

 

Oleh karena itu, pemanfaatan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan tersebut, seperti tenaga matahari, angin, dan panas bumi, memerlukan dukungan berupa sistem penyimpanan energi (energy storage). Saat ini, yang telah diterima secara umum di antara berbagai pilihan yang mungkin, paling cocok adalah baterai elektrokimia. Baterai adalah perangkat portabel yang mampu memberikan energi kimia yang tersimpan sebagai energi listrik dengan efisiensi konversi yang tinggi dan tanpa emisi gas. Selain itu, baterai menawarkan opsi paling menjanjikan untuk memberi daya pada HEV atau EV secara efisien. Dalam skenario ini, yang sangat menarik adalah baterai sekunde yang dapat diisi ulang dan merupakan baterai yang ramah lingkungan memiliki stabilitas penyimpanan energi yang baik.

 

Litium merupakan logam alkali yang paling ringan reaktif, dan memiliki nilai jual tinggi karena banyak digunakan dalam berbagai aplikasi industri  karena banyak digunakan dalam berbagai aplikasi industri, seperti untuk bahan baterai, paduan logam, dan aditif pada keramik, gelas serta polimer. Dengan meningkatnya produksi kendaraan listrik maka kebutuhan akan baterai juga meningkat. Hingga saat ini, jenis baterai yang sesuai untuk kendaraan listrik adalah lithium ion battery (LIB). Pada LIB, litium digunakan pada komponen katoda (bersama logam lain, seperti nikel, kobal, mangan) dan juga sebagai elektrolit.

 

Potensi litium di Indonesia belum terlalu banyak. Menurut data dari Badan Geologi, terdapat dua lokasi yang cukup berpotensi sebagai sumber litium, yaitu di daerah semburan Lumpur Sidoarjo (LUSI), Jawa Timur, dengan potensi litium sebesar 486-960 ton, dan di geothermal brine Dieng, Jawa Tengah, dengan potensi litium sebesar 360 ton/tahun. Penelitian yang dilakukan Puslitbang tekMIRA pada tahun ini mencakup pengambilan percontoh di dua lokasi tersebut, karakterisasi percontoh, hingga proses ekstraksi litium dari LUSI dan brine Dieng.

 

Material LUSI didominasi oleh mineral alumino-silikat (lempung) sehingga secara tekstur memiliki ukuran partikel yang halus (-325#). Hal ini menguntungkan untuk diproses selanjutnya karena tidak memerlukan proses kominusi crushing dan grinding. Kadar litium pada sample LUSI sekitar 107-155 ppm, dengan penyusun utama adalah SiO2 54%, Al2O3 19%, dan Fe2O3 7%. untuk melarutkan litium proses HPAL dan Bayer merupakan proses cukup efektif dalam melarutkan litium, dengan nilai recovery masing-masing sebesar 81% dan 72%. (AW)