UNDERGROUND COAL GASIFICATION CARA LAIN MENGEKSPLOITASI BATUBARA

Pandemi Covid-19 sejak akhir 2019 lalu hingga hari ini telah merubah cara pandang atau paradigma kita di berbagai bidang. Menghadapi bahaya virus korona tersebut, tiap negara mau tidak mau harus dapat mengatasinya secara mandiri. Tidak lagi dapat mengandalkan kepada negara lain karena semuanya menghadapi permasalahan yang sama. Akibatnya kemandirian di bidang pangan atau di bidang obat-obatan. Demikian juga dengan ketahanan energi. Semakin lama pandemi ini berlangsung, ketahanan energi tiap negara menjadi sangat penting. Untuk itu, Indonesia perlu terus menggali potensi energi yang ada. Selain migas, batubara adalah salah satu energi alternatif yang sangat penting bagi Indonesia.

Pemanfaatan dan eksploitasi batubara di dunia dan khususnya di Indonesia hingga saat ini hampir seluruhnya masih dilakukan secara konvensional yaitu dengan metode tambang terbuka dan tambang dalam yang memiliki batasan teknis dan ekonomis. Sehingga, masih banyak potensi batubara tersebut yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Eksploitasi batubara dengan cara konvensional seperti sekarang baru bisa mengeksploitasi 15-20% dari cadangan batubara dunia yang berjumlah sekitar 18 triliun ton dan hanya mencukupi kebutuhan batubara sampai 150 tahun ke depan. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengeksploitasi batubara yang 80% sisanya?

 

Upaya eksploitasi dengan teknologi UCG (Underground Coal Gasification) diharapkan menjadi salah satu solusi dalam eksploitasi batubara yang optimal dan berkelanjutan dengan mengedepankan konservasi sumberdaya batubara. Data dari Kementerian ESDM (Badan Geologi-PSDMBP, 2018), mencatat bahwa sumberdaya batubara Indonesia yang dapat digunakan untuk UCG sebesar 12,7 miliar ton atau dapat disetarakan dengan 53,2 Tcf SynGas. Jumlah ini mendekati hampir setengah dari cadangan batubara Indonesia saat ini.

 

UCG adalah teknologi pemanfaatan batubara non-konvensional yang prosesnya dilakukan dengan mengonversikan batubara menjadi gas bakar secara in-situ di bawah permukaan tanah. Keuntungan teknologi ini adalah tidak banyak mengubah rona permukaan bumi karena dilakukan di bawah tanah sehingga lebih ramah lingkungan. Keuntungan lainnya, teknologi ini memanfaatkan batubara kalori rendah (low rank coal) mulai dari lignit sampai subbituminus yang relatif lebih mudah digasifikasi dibandingkan dengan batubara kalori tinggi. Hampir seluruh batubara Tersier Indonesia mempunyai kalori rendah kecuali di beberapa daerah yang terkena pengaruh intrusi batuan beku seperti batubara di Bukit Asam, Tanjung Enim yang mempunyai kalori tinggi (antrasit). Dengan demikian sangat terbuka untuk mengimplementasikan teknologi ini di Indonesia terutama untuk memanfaatkan batubara yang berada jauh di bawah permukaan dan tidak dapat dieksploitasi secara konvensional.

 

Agar penerapan teknologi UCG berkelanjutan, perlu dikaji kelayakannya baik secara teknis, ekonomis dan lingkungan. Sebagaimana industri pada umumnya, UCG juga menghasilkan produk samping dan limbah yang harus dikelola. Pemrosesan gas dan limbah di permukaan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan cara pemrosesan gas/limbah yang dilakukan di industri pada umumnya.  Manajemen lingkungan yang saat ini digunakan dalam industri dapat diterapkan langsung pada fasilitas UCG di permukaan. Sedangkan pengelolaan limbah yang terjadi dibawah tanah pada intinya harus dikendalikan sehingga tidak mengotori akuifer atau lepas ke permukaan. Kondisi batuan dibawah tanah dan sumur UCG harus mampu mewadahi (containment) gas/limbah yang dihasilkan. Sumur UCG dapat menjadi satu-satunya pintu keluar gas/ limbah ke permukaan untuk diolah. Agar proses pengendalian gas/limbah dapat berjalan sesuai yang diharapkan perlu dilakukan kajian pemilihan lokasi, konstruksi sumur dan fasilitas lainnya yang sesuai standar dan pengendalian proses UCG.

Ada banyak opsi pemanfaatan gas UCG antara lain menjadi listrik, urea, methanol, BBM dan gas alam sintetis. Pemanfaatan UCG untuk pembangkit listrik gas dapat menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dilokasi pertambangan, sehingga dapat mengurangi biaya operasi menjadi lebih murah. Kemudian gas hasil UCG juga dapat dimanfaatkan untuk bahan baku pupuk urea dengan menambahkan pereaksi udara atau udara pada tahap prosesnya sehingga dapat menghasilkan gas nitrogen yang diperlukan sebagai bahan baku pada proses sintesa urea. UCG dapat menjadi solusi untuk pabrik pupuk urea yang dalam dekade mendatang kesulitan memperoleh harga gas murah karena menurunnya produksi gas dalam negeri. Opsi lainnya untuk pemanfaatan UCG adalah dengan pereaksi oksigen murni dapat menghasilkan syngas dengan kandungan nitrogen rendah yang diperlukan pada proses sintesa methanol, BBM dan BBG seperti yang sudah mulai dijajaki studi kelayakannya oleh perusahaan tambang batubara PT. Bukit Asam dan PT. Kaltim Prima Coal.

 

Dengan begitu banyak kelebihan teknologi UCG serta didorong oleh kebutuhan akan energi alternatif di masa depan, maka sudah saatnya pemerintah, akademisi, peneliti dan pengusaha yang terkait agar bersama-sama dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Sehingga slogan Energi Berkeadilan untuk Rakyat menjadi kenyataan.

 

Demikian sekilas ulasan mengenai cara UCG dalam eksploitasi batubara dan pemanfaatan produk syngas yang dihasilkan, mudah mudahan dapat memberikan gambaran dan pencerahan bagi kita semua. salam

 

(Asep Bahtiar)

Super User